Bukit Datar Gandul. Jika disebut viral, mungkin iya—setidaknya di lingkaran kecil kami, orang-orang yang berasal dari Kabupaten Ciamis dan sekitarnya. Media sosial belakangan ramai menampilkan foto-foto keindahan alam dari puncak ini, terutama saat matahari terbit. Sunrise di Datar Gandul disebut-sebut sebagai salah satu yang paling memukau di wilayah Panawangan.
Meski kini saya berdomisili di Kabupaten Bandung, ingatan dan keterikatan emosional dengan Ciamis tak pernah benar-benar putus. Melihat unggahan demi unggahan dari warga Ciamis yang berkunjung ke sana, rasa penasaran pun tumbuh. Dalam foto-foto itu, Datar Gandul tampak begitu eksotis—langit perlahan merekah, hamparan hijau terbentang luas, dan mentari muncul perlahan seolah memberi salam pembuka hari.

Ingatan Lama dari Bangku SMP
Sesungguhnya, nama Datar Gandul bukanlah hal baru bagi saya. Ia sudah sering disebut-sebut sejak saya duduk di bangku SMP, sekitar awal tahun 2000-an. Teman-teman yang tinggal di Desa Sudimara, Jagabaya, dan Sagalaherang kerap bercerita tentang keindahan puncak ini.
Kala itu, akses menuju lokasi masih terjal dan berbatu. Namun justru cerita tentang sulitnya perjalanan itulah yang membuat keindahan Gandul terdengar semakin menggoda. Seolah ada hadiah besar yang menunggu di atas sana—keindahan alam yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang mau berjuang mencapainya.
Mengejar Sunrise dengan Langkah Kaki
Ketika mendengar beberapa teman sudah lebih dulu mencicipi keindahan Datar Gandul, muncul satu pertanyaan reflektif dalam benak saya: masa iya, orang Panawangan sendiri belum pernah menyempatkan diri datang ke sana?
Mumpung sedang mudik, saya pun mengajak adik-adik dan saudara untuk berjalan kaki menuju Puncak Datar Gandul demi mengejar momen sunrise. Sebagian menganggap ide itu gila. Bagaimana tidak—perjalanan dari rumah kami di Desa Indragiri membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam berjalan kaki. Kami harus melewati dua desa: dari Indragiri menuju Panawangan, lalu berakhir di Desa Sagalaherang.
Namun berbekal nekat dan semangat, malam harinya kami sepakat berangkat. Pagi buta, selepas salat Subuh, tepat pukul 04.30, kami melangkah keluar rumah. Ayah yang baru pulang dari masjid tampak terkejut melihat tiga anak perempuannya sudah mengenakan sepatu olahraga dan bersiap pergi di waktu yang tidak lazim.

Gelap, Kabut, dan Doa-Doa Kecil di Jalanan
Perjalanan kami dimulai dalam gelap. Kawasan hutan lindung Situgede yang menghubungkan Desa Indragiri dan Panawangan terasa sunyi dan asing. Tidak ada penerangan jalan. Kabut pagi turun tebal, membuat cahaya lampu ponsel nyaris tak berguna. Kami berjalan perlahan, berpatokan pada marka jalan berwarna putih agar tetap berada di jalur yang benar.
Tak satu pun kendaraan melintas. Bahkan motor yang biasanya menuju pasar pun tak terlihat. Sunyi benar-benar menyelimuti.
Salah satu adik saya mulai merasa takut. Ia membacakan Ayat Kursi dengan suara lirih, mungkin untuk menenangkan diri. Saya justru menertawakannya sambil berkata, “Ini kan pagi menuju siang. Setan-setan sudah pada pulang.” Kalimat itu lebih ditujukan untuk menenangkan kami semua—termasuk diri saya sendiri.
Sunrise yang Terlewat, Kesan yang Tetap Tinggal
Sekitar pukul enam lewat, kami akhirnya tiba di lokasi dengan napas terengah-engah. Ternyata sudah banyak orang di sana—ada yang berjalan kaki, datang dengan sepeda motor, bahkan rombongan menggunakan mobil.
Kami menunggu dengan penuh harap. Namun takdir berkata lain. Cuaca pagi itu kurang bersahabat. Langit tertutup awan, dan momen kemunculan matahari yang kami nanti-nantikan tak tampil seindah ekspektasi. Hasil foto pun jauh dari gambaran media sosial yang selama ini kami lihat.
Meski begitu, rasa takjub kami tak berkurang sedikit pun. Berdiri di Puncak Datar Gandul Sagalaherang, menghirup udara pagi yang segar, memandang hamparan sawah dan pegunungan hijau, hati terasa penuh. Ada rasa syukur yang sulit dijelaskan—tentang langkah kaki, tentang kebersamaan, tentang alam yang tetap indah meski tanpa cahaya mentari sempurna.
Bagi saya, Datar Gandul tetaplah istimewa. Ia bukan hanya tentang sunrise yang viral, tetapi tentang perjalanan, kenangan masa lalu, keberanian melawan malas, dan kesempatan untuk kembali terhubung dengan alam.
Tak heran jika tempat ini layak direkomendasikan sebagai lokasi healing, terutama bagi mereka yang menyukai aktivitas luar ruang. Apalagi, kawasan ini juga dikenal sebagai lokasi olahraga paralayang—sebuah bukti bahwa Datar Gandul bukan sekadar puncak, melainkan ruang luas untuk merayakan keindahan ciptaan-Nya.
