Menantu

Menantu

“Kapan suamimu datang menjemput, Nduk?” tanya ayah bertanya soal kapan sang menantu datang menjemput anak perempuan pertamanya.

Pertanyaan yang aku yakini selalu ditimbang matang sebelum dilontarkan.

Ayah memang terlalu perasa. Sejak ibu pergi, ayah menjadi dua sosok sekaligus. Tegas sebagai ayah, tetapi juga teramat lembut untuk kami mencari kasih sayang seorang ibu.

Aku hanya tersenyum seraya menggeleng.

“Sudah lah, mungkin suamimu masih sibuk dengan urusan lain kan?” ujar ayah berusaha menenangkan.

Lantas ia berlalu, pamit hendak menemui teman lama, silaturahmi di hari raya.

Hatiku berkecamuk. Ada bulir air mata yang siap meluncur di pelupuk mata. Segera kutahan dengan jemari. Jangan sampai ayah tahu aku merasakan kegerian ini. Meskipun aku tahu, ayah jauh lebih paham dari apa yang aku sangkakan. Ayah selalu menyembunyikan kesedihannya karena khawatir anak perempuannya bertambah sedih tentunya.

Aku duduk memandangi makanan yang masih terhidang di meja makan. Opor ayam yang kumasak, ketupat, sambal goreng khas lebaran yang juga kubuat.

“Andai kamu di sini, Mas. Maka kita akan makan sama-sama dengan lahapnya. Kau akan makan masakan ku. Aku sangat ingin mendengar pendapatmu soal makanan yang kubuat.”

Tidak terasa titik air mata membasahi pipi. Rasa pilu yang didera rindu semakin sakit terasa. Seorang istri yang merindukan kehadiran suami di hari raya.

“Assalamualaikum.”

Suara salam yang kukenal berasal dari ruang tamu. Disambut ramai oleh orang-orang serumah. Anakku dan sepupunya riang menyambut kedatangan Ramdan suami adikku.

Aku yang sejak tadi menyibukkan diri di dapur, segera bersiap menemui adik ipar yang baru datang dari perantauan.

Adik perempuanku asik bermanja, bergelayut di lengan suaminya rindu sebulan tidak bertemu.

“Mbak, kapan datang?” tanya adik ipar seraya menyalamiku.

“Sudah hampir seminggu dia di sini, Mas,” adikku menjawab.

“Mas Diman mana?” tanya adik ipar lagi.

“Dia sibuk, tak bisa ke sini lebaran ini. Makanya Mbak Ayu dan Danang di sini dulu, biar tidak kesepian di rumah. Ya kan, Mbak?”

Lagi-lagi Ningrum menjawab pertanyaan, seolah menjadi juru bicara untuk menjawab suaminya.

“Ayo lah, istirahat dulu. Ayah tadi pergi ke rumah rekannya. Nanti pulang menjelang duhur.”

Ningrum menggandeng lengan suaminya masuk kamar.

Aku hanya bisa tertegun memikirkan nasib. Lebaran ini orang-orang berkumpul melepas rindu bersama orang-orang terkasih.

Ningrum, walaupun suaminya tidak datang lebih awal, tetap pulang selepas solat Idul Fitri dan masih dalam suasana hari raya bisa berkumpul dengan keluarga.

Para tetangga pun sudah berkumpul dengan sanak famili sejak jauh-jauh hari. Sementara aku, malah repot menjawab banyak pertanyaan.

‘Mana suaminya? Kapan menjemput? Sibuk apa suaminya sampai lebaran saja harus terpisah jarak?’ serta masih banyak lagi pertanyaan yang dilontarkan dan membuat bosan kudengar.

“Ayah doakan kamu mendapatkan kebahagiaan, Nduk,” ujar ayah ketika kami sungkem tadi pagi ketika ayah datang dari masjid selepas salat Idul Fitri.

Ayah tahu betul bagaimana beratnya perjuanganku dalam menjalani kehidupan rumah tangga dengan terpisah jarak. Pertemuan yang sangat jarang, kebersamaan yang bisa dihitung jari setiap bulan dan tahunnya.

Dengan pelukan yang sangat erat, terasa betul kasih sayang dan tulusnya doa ayah kepadaku.

“Doakan saya, Ayah. Semoga saya kuat menjalani hidup ini,” pintaku pada ayah dengan tangis yang semakin berurai.

Ayah mengangguk lalu mengelus kepalaku.

Bagiku kini, hanya doa ayah yang bisa membuatku lebih kuat. Hanya senyum ayah yang ingin aku ciptakan. Aku tidak mau membuatnya sedih karena melihat aku tidak bahagia.

“Ayah, aku pastikan, aku akan menjaga rumah tangga ini sekuat tenaga. Menantu mu belum bisa sering datang menemui ayah. Tapi aku yakin, suatu hari ia akan dapat berkumpul bersama di sini, seperti menantu ayah yang lainnya,” bisikku.

Isak tangis kembali terjadi. Aku tak tahan lagi.

Kutengok ponsel di tangan, tidak juga ada pesan atau telepon yang masuk dari suami.

“Kamu di mana, Mas? Adakah kau baik-baik saja?”

Memiliki seorang suami yang mendapatkan amanah pekerjaan yang harus masuk di hari libur bahkan hari raya adalah risiko yang harus aku telan mentah-mentah. Tiap tahun nyaris merayakan hari raya hanya berdua dengan anak semata wayang. Kami baru bisa berkumpul di hari ke sekian setelah semua tugas selesai.

Andai aku bisa membeli seluruh kesibukanmu, Mas. Akan aku lakukan asal kau bisa berkumpul dengan kami di waktu-waktu penting seperti sekarang ini, benakku berangan-angan.

Rindu ini membuncah. Kadang ingin aku meminta, tinggalkan saja semuanya. Biarlah kau tetap bersamaku setiap saat. Soal rejeki, biar kita sama-sama mencari di sini sebisa dan semampu kita. Aku begitu takut kehilanganmu.

Namun kadang kembali pada kesadaran, bahwa, itu pilihanmu. Pilihan yang harus aku dukung sepenuhnya.

“Sabar ya, semoga Allah kasih yang terbaik untuk kita,” katamu menghiburku kala kesedihan itu menghampiri.

Aku hanya bisa mengangguk patuh. Jauh denganmu banyak hal yang ingin aku keluhkan. Namun saat dekat, semua permintaan itu lenyap. Aku memilih menikmati saat-saat kebersamaan yang semakin sulit didapatkan.

Aku selalu berdoa, suatu saat kita bisa berkumpul lebih lama, lebih sering, tanpa batas waktu.

Tentunya, aku bisa membawamu dengan bangga, bahwa kamu pun bisa menjadi menantu lelaki yang baik untuk ayah. Menemani ngobrol tentang banyak hal, mancing, bahas politik, dan apapun yang membuat ayah senang.

Kamu pasti bisa, Mas. Ya, suatu hari kamu pasti bisa.


"Semua konten menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi RuangPena."

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *