Menanamkan Ajaran “Bikin Temanmu Nyaman” Pada Anak.

Menanamkan Ajaran Bikin Temanmu Nyaman Pada Anak

Menanamkan Ajaran “Bikin Temanmu Nyaman” Pada Anak.

Bisa gak anaknya ditegur? Biar gak terus menerus menyakiti anak saya?”

Pernah sekali waktu saya mendengar seorang ibu berkata demikian kepada ibu teman anaknya.

Merasa tersakiti karena anaknya mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari temannya. Sang ibu pun bercerita, bahwa ia mendengar anaknya melaporkan ini itu sepulang sekolah di rumah. Setelah mendengar kabar demi kabar, sang ibu pun mengambil kesimpulan bahwa anaknya seringkali disakiti, dijahili, dibuat tidak nyaman dan betah saat ada di sekolah.

Mendengar kejadian itu, saya sebagai ibu, otomatis langsung bercermin. Saya pun punya anak. Saya temui anak saya dan mengajukan beberapa pertanyaan.

“Dek, apakah kamu pernah dijaili sama geman?”

“Pernah,” jawabnya.

“Boleh tahu, kenapa kamu sampai dijahilin sama temanmu itu?”

Berbagai jawaban saya dapatkan.

Pertama, temannya jahil karena anak saya lah penyebabnya. Kedua, ada teman yang memang senang jahil sama orang yang pendiam dan terlihat “asik dan pantas” untuk dijahili. Ketiga, anak saya menjadi “korban” kejahilan beregu. Dilakukan secara bersamaan. Anak-anak yang tidak memiliki keberanian perorangan menjadi berani menjahili karena beramai-ramai.

Lantas saya pun bertanya, “apakah kamu sendiri pernah jahil sama temanmu?”

Sambil tertawa malu-malu putraku menjawab, “pernah, iseng.”

Lalu saya menambahkan pertanyaan lain, “apa yang membuat kamu merasa ingin jahilin teman?”

Jawabannya saya simpulkan, pertaman, karena senang aja, temannya asik diajak bercanda. Kedua balas jahil karena temannya pernah menjahili, ketiga ikut-ikutan karena teman-teman yang lain juga punya julukan yang sama pada satu objek.

Lah, kok jawabannya sama. Sebagai “korban” dan “pelaku” anak saya memiliki kesamaan jawaban.

Akhirnya saya pun kembali mengerucutkan simpulan. Berarti, tidak ada anak yang benar-benar sempurna, pun sebagai orangtuanya. Saya sendiri sampai mengelus dada, ketika sadar, bahwa,

1. Pola didikan saya tidak sampai benar-benar membentengi anak saya untuk tidak berbuat hal yang merugikan temannya.

2. Masa anak-anak adalah masa yang tidak bisa dikendalikan. Mereka punya naluri bermain yang kuat, perkembangan emosi yang gampang berubah, belum dewasa dan belum bisa mengendalikan emosi secara sempurna.

3. Sebaik apapun anak kita gak selamanya jadi anak yang benar-benar baik tanpa cela dan tanpa keinginan berbuat sesuatu yang merugikan orang lain. Pengetahuan mereka masih terbatas. Entah niat sengaja ataupun tidak mereka pasti pernah melakukannya.

4. Sesakit apapun perlakuan yang diterima anak kita, tidak mungkin tanpa sebab. Entah anak kita yang menjadi pemicu (jahil duluan misal) atau malah memiliki karakter yang memancing kejahilan teman-temannya.

Hal-hal yang mungkin bisa memancing perlakuan jahil dari temannya seperti jarang bicara, pemalu, pakaian yang lusuh, bau dan kotor, susah bergaul, tertawa yang mengganggu, suara yang terlalu keras, cara bicara yang kurang enak didengar, cara bersikap yang kurang menyenangkan, tukang ngadu, gampang nangis. dll. Semua itu bisa memancing teman-temannya untuk jail bahkan mungkin membully.

Intinya, tidak ada asap jika tidak ada api. Sebagai orang tua mari kita bercermin. Ketika mendapati anak menangis melaporkan banyak hal tentang temannya, belajarlah untuk tidak serta merta langsung menyalahkan orang lain. Siapa tahu, penyebabnya justru ada pada anak kita. Kesalahannya malah ada pada diri kita sebagai orang tua tidak bisa menumbuhkan mental anak menjadi anak yang lebih menyenangkan dan membuat teman-temannya nyaman.

Jika teman-temannya nyaman, anak kita menyenangkan, maka tidak lagi akan ada yang menjahili berlebihan. Semua akan baik-baik saja.

Anak kita yang bicaranya kurang menyenangkan bisa dilatih agar lebih sopan. Bajunya kita pantaskan, kebersihan badannya kita jaga. Cara bicaranya kita perbaiki.

Jangan pernah lelah mendukung anak untuk menjadi orang yang berbesar hati, pemaaf, dan penyayang sesama teman.

Tidak lupa pula mengajarkan mereka untuk senantiasa membuat temannya merasa nyaman, seperti dirinya yang tidak ingin terusik kenyamanannya.

Mari bercermin sebelum menyalahkan orang lain.

Dah gitu aja. Semoga bermanfaat ­čśŐ


"Semua konten menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi RuangPena."

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *