Ilustrasi Pasangan (Sumber : Unsplash / Tran Van Son)
Mas Surya, laki-laki baik itu sekarang bertransformasi menjadi pria tampan dan mapan. Dia berhasil menjadi orangtua dan suami yang baik. Namun, dia juga berhasil membuat hati dan kepalaku kacau.
Aku sedang merenung di halaman sebuah sekolah dasar tempat anakku bersekolah. Aku duduk disini sengaja agar datang menjemput lebih awal, dan anakku tak ikut menumpang pada anak lain. Tak enak rasanya, jika anakku diantar orang tua lain yang rumahnya tidak searah dengan rumah kami.
Aku merenungi isi hatiku, yang entah kenapa bergejolak tak karuan. Sebab, sebulan yang lalu aku baru tahu kalau sebenarnya anak perempuan lucu yang sering anakku ceritakan adalah putri dari seseorang bernama Surya. Anak itu cantik, rapi, dan pintar itu bernama Sadiqa.
Anakku sering bercerita tentangnya, karena dia adalah sahabatnya sejak pertama kali masuk sekolah ini. Ini adalah tahun pertama aku menjadi wali murid di sekolah. Aku masih tak menyangka, jika Sadiqa, sahabat anakku itu adalah anak dari seorang pria, yang sempat dekat denganku, yang sempat ku kagumi semasa SMA dulu.
Surya adalah kakak kelasku dulu, saat duduk di bangku SMA. Dia pernah ku sukai dan dia juga tahu kalau aku pernah menyukainya. Rasanya dunia menjadi dingin, menghujam, dan semua mata tertuju padaku.

Bagaimana kalau Papanya Raina tahu tentang ini semua? Aku hanya mencemaskan, jika pasangan kami tahu. Sebab tidak pernah ada yang aku rahasiakan darinya, kecuali ini.
Alasannya, karena Mas Surya bukan mantan, dan kita tak pernah menyatakan jadian. Jadi, karena dia tidak termasuk dalam daftar mantan, tidak ada salahnya jika aku tidak menceritakan dan merahasiakannya dari pasanganku hari ini.
“Ya ampun, Sadiqa. Pantas saja sejak aku mengenal anak itu, dia punya daya tarik tersendiri. Binar matanya seperti mengingatkan aku pada seseorang yang entah siapa di masa lalu. Dari cara bicaranya, juga rasanya aku tahu itu siapa. Ternyata, benar saja terjawablah semua teka-teki yang aku simpan selama ini, siapa orang tuamu.”
Aku menggerutu, berbicara sendiri di depan gerbang sekolah.
Keresahan ini berawal ketika bulan lalu anakku bercerita, kalau dia ditawari tumpangan untuk pulang ke rumah dan diantar oleh Ayah Sadiqa. Saat aku ingin berterima kasih, aku berjalan menuju beranda rumah, dan tiba-tiba aku merasakan detak jantung yang tak biasa. Ternyata, lengkung senyum dan kepala yang sedikit menunduk itu berasal dari Mas Surya, ayah dari Sadiqa. Akhirnya aku tahu, kalau istirahatnya dari kantor, sering digunakan untuk menjemput anak dan melanjutkan makan siangnya di rumah.
Mas Surya adalah bagian dari masa laluku, aku pernah menyimpan perasaan yang lama untuknya. Aku adalah adik kelasnya, dan dia adalah seniorku dua angkatan. Sangat banyak kenangan di antara kita, aku bahagia ketika dianggapnya sebagai adik, karena saat SMA kita sama-sama perantau.
Kita adalah siswa dari daerah, memutuskan untuk melanjutkan SMA ke kota. Kita sama-sama merantau, dan merasa memiliki kesamaan nasib, akhirnya kami dan anak lain sesama perantau cukup dekat layaknya saudara. Namun, setelah lulus dan Mas Surya memutuskan untuk lanjutkan pendidikannya, aku tidak lagi bertukar kabar dengannya.
Terakhir, aku datang ke hari pernikahannya. Mas Surya terlihat sangat bahagia, aku tidak tahu perasaan apa ini. Jelas kami semua sudah memiliki pasangan dan sangat tidak wajar jika kami merasakan kembali getaran kupu-kupu yang kembali bersarang di dada.
Memang sewaktu SMA, aku yang mengungkapkan perasaan lebih dulu. Keputusan itu aku ambil karena aku rasa, sebelum terlambat, sebelum aku dan Mas Surya kehilangan kontak. Sebelum aku menyukai Mas Surya, aku sempat didekati oleh sahabat dekat Mas Surya.
Laki-laki baik itu bernama Huda, lantas kami jadian waktu itu. Sedangkan Mas Surya adalah penengah diantara kami, ketika aku bercerita pada Mas Surya, ternyata Mas Huda juga menceritakan hal yang sama. Mas Surya adalah pereda masalah dari semua hal yang membuat kita berseteru.
Mas Surya, sering sekali tenang dalam menengahi dan memberi solusi saat debat-debat kecil menghiasi hubungan kami. Namun, ada hal yang membuat aku ingin berpisah dengan Mas Huda yang menurutku sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Sejak saat itu juga, aku berpisah dengan Mas Surya, sebab persahabatan kami renggang dan tidak lagi bersama.
Setelah beberapa bulan, aku kembali berhubungan dengan Mas Surya lewat aplikasi chat. Kami sangat akrab dan seperti tidak ada sekat di antara kita. Kita seperti sahabat yang kembali bertemu, seperti saudara yang sudah lama terpisah, kita banyak menghabiskan waktu dan membahas masa lalu, tentang Mas Huda, tentang segalanya yang pernah kami semua lewati.
Tanpa disadari, aku mengungkapkan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu.
“Sebelum kita berpisah, dan Mas Surya memutuskan untuk melanjutkan kuliah ke luar kota. aku ingin Mas mengetahui sesuatu yang mungkin terdengar tabu, tapi aku ingin Mas tahu. Selama ini aku menyukaimu Mas, aku sangat bahagia dekat denganmu.”
Tulisku di pesan singkat waktu itu.
Selama lima menit, pesan belum juga dibalas, padahal dalam keterangan, pesan itu dibaca tepat setelah pesan ini dikirim. Nampaknya, dia juga sedang mengoperasikan ponsel dan langsung membaca pesanku.
Sepuluh menit berlalu, aku semakin tak karuan dan sempat berpikir untuk menarik pesannya kembali dan membatalkan ungkapan konyolku itu. Setelah lima belas menit berlalu, kulihat keterangan “mengetik..” seraya dengan detik jatungku berdebar. Akhirnya ada balasan dari Mas Surya dan aku ingin cepat-cepat membukanya, namun kuputuskan untuk menarik nafas dahulu dengan dalam dan tenang supaya aku bisa mengontrol perasaanku.
Kubuka pesan itu dengan hati yang sulit dikendalikan. “Nad, kenapa kamu baru bilang sekarang. Andai kamu bilang lebih dulu, hatiku sangat terbuka untuk menerimamu sejak dulu.”
Menganga aku membaca pesan dari Mas Surya. “Apa-apaan ini? Apa ini artinya? Apa Mas Surya juga memiliki hati kecil yang sama denganku? Jika iya, sejak kapan ya. Apa saat aku masih berhubungan dengan Mas Huda dulu? Ya ampun Mas Surya. Kamu kenapa sih?” Gumamku, dalam hati.
Perasaan berkecamuk itu datang, tak kuasa aku membalas lagi pesannya. Entah sejak kapan hatinya terbuka untukku, entah sejak kapan Mas Surya juga membalas rasaku. Memang sejak aku sering curhat tentang Mas Huda, dia baik-baik saja, responnya tenang dan damai. Ia memang pandai mengelola sikap.
Kubalas pesan singkatnya dengan hati dan tangan yang gemetar. “Mas, maafkan perasaanku ya. Maaf aku lancang mengungkapkan sesuatu yang memang tak pantas dan tak perlu kau tahu.” Klik, ku kirim pesan itu dengan sadar.
Lelaki yang kugilai itu memang membuatku terngiang-ngiang. Giginya yang rapi, perawakannya yang jangkung namun berisi, ia kukagumi habis-habisan karena dia juga menjadi senior favoritku selama aku bersekolah. Bayangkan, dia adalah senior terbaik di pramuka, dan salah satu kakak-kakak di deretan Dewan Ambalan, yang baju seragamnya penuh dengan lencana.
Dibalasnya dengan segera pesan gilaku itu. “Iya Nad, tak apa. Lagipula tak ada yang mengganggu, justru terima kasih kamu sudah mengungkapkannya. Terima kasih telah mengagumiku yang seadanya ini. Sekali lagi, seandainya kamu bilang dari dulu. Mas sangat terbuka untukmu Nad.”
Tertegun sudah aku, sulit membalas dan kuputuskan untuk mengakhiri percakapan. Mas Surya tidak mengirim pesan lagi sampai esoknya, kita kembali membahas banyak hal seperti biasa seolah tak terjadi apa-apa.
Hari demi hari berlalu, kita semakin jarang berkomunikasi. Ada beberapa kali sapaan dan interaksi melalui komentar di bar status, dan kami saling menanggapi. Sebatas itu kami berhubungan, dan tak membahas lagi soal perasaan.
Melalui salah satu postingannya waktu itu, Mas Surya terlihat telah memiliki pasangan dan mereka tampak bahagia. Akupun menemukan suami yang sekarang sangat menyayangiku. Bertahun-tahun kami menemukan kebahagiaan masing-masing, dan aku telah jauh mengubur masa lalu tentang ungkapanku waktu itu.
Sialnya, anakku bersahabat dengan anakmu Mas. Akhirnya dalam setiap hebohnya cerita anakku tentang teman-temannya, aku selalu menunggu cerita tentang Sadiqa, si anak pengusaha itu.
Seketika, bel sekolah tanda berakhirnya jam pelajaran berbunyi. Suaranya memecah renunganku tentang dirimu Mas. “Selamat siang, selamat beristirahat Mas, lekas jemput anakmu dan segera makan masakan istrimu yang lezat itu.” Kataku bicara sendirian.
“Mamaaaaa.”
Seketika teriakan kecil itu mengembalikan fokusku pada dunia nyataku sekarang. Ya, itu adalah sahutan Raina, anak semata wayangku.
“Ma, Sadiqa besok ulang tahun. Aku dan mama diundang lho ke rumahnya, nih undangannya.”
Ku terima kertas kecil begambar tokoh kartun itu sambil merasakan betapa bekunya hatiku saat ini, entah apa yang akan kulakukan besok.
Ah, Mas Surya. Kau mengganggu ingatanku lagi.
