Level Keluhan

Level Keluhan

Ngeluh dan merasa lelah itu wajar. Karena kamu manusia, punya rasa, punya hati (jangan samakan dengan pisau belati ­čĄş). Manusiawi lah ya….

Ngeluh, lelah, adalah tanda kamu sedang sadar diri bahwa kekuatan dan keadaan kamu tidak sebanding dengan keadaan yang menghimpitmu. Kalau semua normal, flat, bisa teratasi, dan baik-baik saja mana mungkin ngeluh ya kan?

Ngeluh itu bisa karena kamu emang gak punya kemampuan dan gak punya kapasitas untuk menangani kesulitan yang menimpa kamu. Bisa jadi, karena ada keluhan itu lah kamu jadi punya tekad untuk bangkit lebih cepat. Keluar dari zona itu. Memperbaiki hidup dan kapasitas diri biar gak gitu-gitu aja.

Apakah orang ngeluh selalu tanda bahwa dia tidak bersyukur?

Menurut saya tidak juga. Balik lagi sama kodrat manusia yang punya rasa punya hati. Yang gak mungkin bisa lempeng 100% tanpa ada bisikan dalam hatinya untuk mengeluhkan sesuatu. Yang membedakan adalah level sensitivitas rasa dan cara mengungkapkan. Ada yang cuma ngurut dada lalu keluhannya hilang, ada yang menggerutu tapi tiap hari aktivitasnya itu-itu aja tanpa perbaikan. Ada juga yang meledak-ledak lalu sembuh sesaat kemudian.

Banyak kok, yang seolah banyak ngeluh tapi nyatanya dia bisa melesat maju dengan cepat. Soalnya ia bisa “menggunakan keluhan” buat mikir cara. Mikir strategi buat bangkit. Mikir gimana caranya buat segera keluar dari zona yang menurut dia sulit. Bertekad – beraksi – berusaha sungguh-sungguh – berubah.

So, kalau ada yang ngeluh, biarin aja napa? Jangan terlalu cepat nge judge bahwa dia gak pandai bersyukur, lebai, atau apa lah.

Coba merenung deh dikit. Dia yang hari ini banyak ngeluh, bisa jadi dia memang punya kisah sulit yang teramat sulit. Belum tentu kita mampu sekuat dia melewatinya.

Coba maklumi dikit deh. Dia yang ngeluh itu mungkin emang gak seberuntung kita. Dikelilingi sahabat dan teman yang selalu kompak mendukung. Memiliki keluarga utuh yang selalu mendukung, hangat dan saling support. Tetangga yang ramah, kebebasan finansial, pasangan yang selalu di sampingnya, fasilitas yang mudah diakses, fisik yang sempurna, lingkungan nyaman, dan semua ketenangan yang kita rasakan.

Lalu, ketika ia tidak seberuntung kita, masa ngeluh sesekali aja gak boleh. Ngeluh dikit saja langsung dibombardir nasihat. Harus ini harus itu. Gak boleh gitu, gak boleh begitu begini. Dicap lebai dan sebagai tukang ngeluh.

Hargai perjuangan dia sampai tahap sekarang. Caranya bertahan, caranya menyelesaikan kesulitan, caranya menghadapi tantangan.

Nasihat? Jangan heran jika kadang mereka bengal. Susah dikasih nasihat. Orang kayak begitu emang sudah gak butuh nasihat. Soal caranya bangkit tentu sudah sangat paham dirinya kudu gimana. Kalau gak tahu cara bangkit, gak akan mungkin dia masih hidup sampai sekarang. Mungkin sudah mati nyemplung sumur. Atau hanyut di sungai, sampai ke laut dan dimakan hiu.

Kalau dia yang ngeluh masih bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, dan gak merepotkan kamu juga, tenang saja deh. Bentar lagi juga sembuh.

Tukang ngeluh yang sekarang masih bisa kerja, masih beraktivitas normal, masih punya karya dan pencapaian, tentu paham prinsip ini:

“Ngeluh boleh, yang gak boleh itu, ngeluh lalu nyerah!”

Dah, gitu aja.


"Semua konten menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi RuangPena."

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *