Lelaki Idaman Perempuan Sesuai Masa Usia

Lelaki idaman perempuan

Memilih lelaki idaman sebagai pasangan adalah hal yang susah-susah gampang. Lelaki juga tentunya bukanlah sebentuk barang yang bisa dipilih sesuka hati seperti saat perempuan memilih tas, sepatu, atau bahkan toping seblak di warung jajanan. Mereka hati, punya perasaan dan tentunya karakter yang berbeda-beda.

Seperti halnya lelaki yang memiliki kriteria khusus dalam memilih pasangan, perempuan pun demikian. Setiap perempuan pasti mendambakan sosok lelaki idaman yang ideal untuk dijadikan pasangan bahkan pendamping hidupnya kelak. Namun ternyarta setiap masa usianya perempuan memiliki kriteria yang berbeda.

Pertama kriteria pasangan pada masa remaja. Saat remaja adalah saat seseorang merasakan cinta monyet. Dimana ada perasaan suka dan getaran aneh yang tidak terbendung saat bertemu/melihat/mengingat/mendengar nama orang yang disukai disebutkan oleh seseorang.

Getaran aneh itu tentunya tidak tiba-tiba mucul. Sudah pasti ini dipengaruhi karena orang tersebut masuk kriteria lelaki idaman saat remaja; ganteng, bintang kelas, bintang lapangan (pandai di bidang olahraga populer), dan atau seorang bad boy.

Read More

Yang terakhir memang cukup aneh. Tetapi tidak bisa dipungkiri, lelaki yang masuk golongan bad boy malah lebih populer daripada remaja lelaki yang kutu buku. Karena dianggap bisa mencairkan suasana, seru, penuh kejutan, gak monoton dan bikin hari-hari seperti naik roller coaster.

Kedua, kriteria masa kuliah (fase remaja akhir). Lelaki yang pintar, aktivis kampus, tajir, adalah beberapa kriteria yang dipasang oleh perempuan.

Mahasiswa yang pintar debat di kelas, pintar main musik dan berwawasan luas dianggap sebagai sosok lelaki idaman untuk dijadikan calon suami. Pasalnya, perempuan yang sekolah tinggi membutuhkan sosok yang mampu mengimbanginya dalam cara berpikir, berpendapat, mengambil keputusan sehingga dianggap akan lebih bijak dalam menentukan langkah-langkah dalam perjalanan kehidupan rumah tangga.

Seorang lelaki pintar dan cerdas pun dianggap sebagai lelaki yang serba tahu dan dianggap layak sebagai imam yang mampu membimbing keluarganya.

Aktivis kampus juga sering dianggap memiliki masa depan cerah. Karena sejak kuliah ia sudah menunjukkan keberanian dalam bersosialisasi sehingga dianggap tidak akan kesulitan dalam menafkahi karena aktivis dinilai mudah mendapatkan pekerjaan, sebab punya kemampuan lobying yang andal dan relasi yang luas.

Terakhir, lelaki tajir. Kelompok ini dianggap sebagai manusia yang menjanjikan kehidupan yang indah. Kehidupan pernikahan tidak harus dimulai dari titik minus dan nol. Karena sudah memiliki modal lebih baik daripada seseorang yang mereka golongkan kaum “mendang-mending”.

Namun, semua ekspektasi tersebut kemudian tumbang ketika kehidupan rumah tangga berjalan sedemikian rupa. Beberapa perempuan yang sudah menjadi istri dan ibu ternyarta tidak lagi memasang kriteria yang sejak muda didambakan.

lelaki idaman
ilustrasi lelaki idaman dari masa ke masa

Ketiga, masa dewasa dan kriteria suami ideal. Pada masa dewasa, perempuan memiliki harapan yang jauh lebih sederhana tetapi memang tidak semuanya bisa didapatkan.

Seorang perempuan dewasa tidak lagi butuh pada ketampanan. Pembawaan sikap dan cara laki-laki memperlakukan perempuan jauh lebih menarik bagi perempuan dewasa. Bahkan sebagian perempuan merasa cemas ketika memiliki pasangan dengan wajah yang terlampau tampan. Maraknya isu perselingkuhan membuat perempuan merasa was-wasa meskipun untuk berselingkuh tidak hanya modal tampan. Namun pria tampan cenderung memiliki penggemar yang lebih banyak daripada yang parasanya biasa saja. Rasanya tidak apa-apa tidak terlalu tampan, asalkan setia pada pasangan.

Pandangan perempuan dewasa kepada laki-laki tajir pun bergeser. Mereka memperluar kriteria dari “tajir’ itu sendiri. Sumber kekayaan pribadi dari kerja keras dan bisnis pribadi akan lebih menarik perempuan dewasa daripada properti pinjaman dari orangtua. Laki-laki yang bekerja jauh lebih menjanjikan daripada mereka yang kaya dari warisan tanpa pekerjaan.

Perempuan dewasa ternyata tidak lagi suka dengan laki-laki yang terlampau pintar. apalagi dia yang senang menggurui dan mendikte ini itu. Membuat perempuan merasa jengah. Lelaki yang sabar dalam menyikapi masalah dan tangkas dalam menghadirkan solusi jauh lebih menarik perhatian daripada dia yang terlampau pintar tetapi terlalu banyak wacana dan narasi deskripsi tanpa aksi nyata.

Terakhir, Pasca Pernikahan. Setelah menikah, berumah tangga dan memiliki anak, sosok yang dibutuhkan perempuan bukan lagi tampan. Yang penting setia dan tidak membuka peluang untuk perempuan lain di luar sana.

Istri akan sangat bahagia dengan lelaki yang setia mendampinginya dengan cara yang sederhana. Suami yang menerima kekurangan dan siap mendengar keluh kesah. Suami yang menghargai istri, mau mengalah dan memberikan rung untuk istri dalam berpendapat meskipun lelaki berhak mendikte dan punya kapasitas untuk melalukannya.

Tidak terlalu peduli lagi dengan harta kekayaan. Karena sederhanapun tidak apa-apa. Asalkan tetap hidup rukun dan saling mendukung satu sama lain sudah merupakan kekayaan yang tidak terkira. Karena ujian kepada kesetiaan laki-laki datang ketika ia mempunyai segalanya.

Setelah menikah, seorang istri memang akan bangga dengan suamnya yang pintar bicara, orasi dan negosiasi dan kecerdasan lainnya yang dimiliki. Namun ketika di rumah, laki-laki hanya perlu menjadi suami yang siaga tumpuan harapan anak dan istrinya dan menjadi ayah yang baik untuk anak-anaknya.

Karena dalam pernikahan bukan lagi butuh wacana. Semua masalah yang ada harus segera ditangani dengan solusi yang tepat dan cepat. Lelaki yang solutif dan bisa melakukan ini-itu menyelesaikan masalah di rumah jauh lebih menjadi idaman. Istri lebih suka laki-laki yang cekatan memberikan bantuan kecil dan perhatian saat istri kerepotan mengurus anak daripada yang terlampau banyak bicara dan mengeluarkan teori dan kata-kata.

Pada akhirnya perempuan hanya butuh dia yang setia, mau berjalan berdampingan dalam mengarungi kehidupan, menyelesaikan masalah sama-sama, menjalani suka duka dengan saling menggenggam erat sampai usia senja.

Tidak perlu kaya untuk bahagia, karena ternyarta kebahagiaan diukur dari kadar kesyukuran kita semata. Tidak perlu terlalu cerdas untuk dinyatakan layak sebagai pemimpin. Karena nyatanya kepatuhan seorang istri bukan karena dirinya lebih bodoh dari suaminya. Melainkan karena ia paham betul siapa yang selama ini selalu ada untuknya, siapa yang selama ini selalu berusaha membahagiakannya, siapa yang tidak pernah meninggalkannya.

Suami yang selalu langsung pulang ke rumah sepulang kerja dan menganggap keluarga adalah prioritas utama dan yang rela berbagi peran di rumah adalah sosok idaman. Dia yang mau mendengarkan apapun cerita perempuannya tanpa bantahan dan menjatuhkan, maka dialah yang dipatuhi tanpa syarat. Meskipun sang istri punya segalanya.

Apakah kamu juga setuju?

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *