Kreatif Mensiasati Kehidupan

Kreatif
Sumber gambar:Unsplash/content Fixie

Mungkin aku “terlampau kreatif” untuk diam di tempat yang memang seharusnya menerapkan berbagai peraturan dan hal-hal yang prosedural. Untuk orang-orang sepertiku yang mendambakan kebebasan berekspresi dan menikmati hidup dengan maunya sendiri, hal-hal prosedural, penuh aturan itu melelahkan. Bukan ingin hidup bebas tanpa kendali apalagi terlalu urakan tidak karuan. Namun kreatif dalam mensiasati kehidupan itu jauh lebih menyenangkan.

Aku, anak perempuan pertama yang sejak kecil tak pernah bisa diam, tidak akan pernah percaya hal-hal baru sebelum ia mencoba dan membuktikannya sendiri. Tidak terkecuali hal-hal yang baru saja hinggap di pikirannya.

Ya, banyak ide yang berjubel di kepalaku, kadang tidak diterima oleh orang-orang di sekitarku. Dianggap terlalu berlebihan, pemimpi ulung yang mungkin lebih tepat jika disebut sebagai seorang pembual. Akhirnya aku memilih untuk berbeda dari kebanyakan orang di sekitarku. Tidak peduli mereka mentertawakan, mencibir dan lain sebagainya. Yang penting hati nyaman dan merasa tenang. Bukankah bisik hati yang terdalam itu selalu menjadi petunjuk yang menentramkan?

Sering aku ditentang. Aku bicara mungkin, orang lain tidak. Aku bicara bisa orang lain tidak. Aku bicara “ya” orang lain masih tidak percaya.

Lantas apa yang sebenernya salah? Sampai semuanya malah terkesan selalu bersebrangan?

Read More

Tidak, tidak ada yang salah. Semuanya sudah pasti ditakar dan dibuat sedemikiam rupa oleh Allah SWT.

Sekarang aku paham. Tidak ada yang salah dengan semuanya. Ini hanya soal waktu dan tempat. Kami berada di tempat sama padahal karakter kami berbeda.

Aku salah tempat, mereka tidak. Atau bisa jadi aku yang benar, tetapi mereka tidak seharusnya di sana. Kita semua adalah orang-orang hebat jika di tempat yang tepat.

Kalau sudah bertemu dengan yang “sefrekuensi” saja yakin pasti bisa jauh lebih nyaman.

Namun masalahnya, orang yang keras kepala dan ambisius itu jarang benar-benar ditemukan di sini (di lingkungan sekitarku) Mereka cenderung mengalah pada kedaan dan tuntutan. Hanya sedikit orang yang siap mengorbankan materi hanya untuk mendapatkan sebuah rasa tenang. Melepaskan jabatan, merelakan “penghasilan tetap” hilang begitu saja. Kebanyakan dari mereka masih bergantung pada ketakutan. Khawatir anak dan keluarga tidak makan. Cicilan dan utang tidak terbayar.

Padahal melepaskan diri dari belenggu ketakutan itu sangat mudah. Pertama, percaya bahwa Allah telah menjamin rejeki setiap mahluk. Kedua, setiap orang diberikan akal, potensi, kemampuan yang bisa dijadikan senjata untuk mencari penghidupan di tempat dan dengan cara yang dianggap jauh lebih humanis dan nyaman. Ketiga ikuti perkembangan zaman. Jangan hanya diam tanpa memahami perkembangan. Tangkap setiap  peluang yang mungkin memudahkan dan membantu kita berkembang. Keempat, ini yang paling utama; jangan suka membiasakan diri berutang dan membeli barang yang memang tidak sepadan dengan penghasilan. Mengkredit barang mewah dengan jangka pembayaran yang lama hanya akan mejadikan hidup kita jauh lebih menderita. Hari-hari bekerja hanya mengejar setoran. Bagai robot yang diseting hanya untuk bekerja dan bekerja.

Dijajah oleh keinginan. Diperbudak oleh seseorang yang seharusnya menjadi orang yang paling mengerti dan memahami. Seseorang yang seharusnya bisa membuat kita bahagia.

Ya, penjajah itu tidak lain adalah diri kita sendiri.

Lepaskanlah dari belenggu-belenggu itu. Jadilah kreatif, ikuti kata hati dan hiduplah dengan bahagia. Jadilah orang dengan nol rupiah utang.

Menjadi kaya adalah impian. Namun hidup sederhana adalah sebuah pilihan hidup yang jauh lebih menenangkan.

Dah, gitu aja.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *