Ketika Antre Beli Makanan: Kesabaran Kita Rejeki Bagi Orang Lain

Kesabaran kita adalah rejeki bagi orang lain
Penjual makanan di Pasar Kaget Kecamatan Ibun

Banyak yang bilang bahwa kesabaran itu ada batasanya, sehingga seseorang sangat berhak marah, kesal, sampai ngedumel, ngeluh dan ngoceh apa saja jika kesabarannya dipermainkan. Namun nyatanya kesabaran itu pahalanya tiada batas.

Bahkan Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 45 “Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” Ayat yang menjelaskan bahwa Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk tetap sabar dan sholat sebagai penolong.

Sungguh luar biasa, ketika kita bersabar Allah memberikan pertolongan yang tidak terhingga, itu berarti, bahwa sejatinya sabar itu tidak mesti ada batasnya. Harus tetap dilatih dan dipertahankan jangan sampai ego dan keinginan sesaat berhasil merobohkan kesabaran kita.

Bicara soal sabar yang (seharusnya) tidak ada batasnya, baru-baru ini saya memiliki sebuah pengalaman sederhana yang membuat saya merenung luar biasa. Membuat saya paham bahwa kesabaran itu tidak melulu soal menolong diri sendiri dari masalah yang sedang dihadapi. Melainkan menolong dan menyelamatkan semua hal yang terjadi di dunia ini. Masyaallah, Maha Benar Allah dengan segala Firmannya.

Ahad pagi saya menyempatkan mengantar jagoan, anak semata wayang yang merasa jenuh berdiam diri di rumah di hari libur. Tanpa harus mandi, kami berjalan kaki menuju pasar kaget setiap Ahad di lingkungan kantor kecamatan Ibun Kabupaten Bandung. Tidak jauh dari tempat tinggal kami saat ini.  Pasar kaget rutin setiap Ahad yang baru-baru ini mulai ramai lagi setelah sebelumnya sempat hilang karena aturan PPKM. Sedikitnya mampu mengobati kerinduan warga Ibun yang pada “lapar mata.” Walau belum seramai dari sebelumnya karena masih ada pembatasan.

Read More

Berbagai barang dijajakan oleh para penjual. Dari mulai makanan, pakaian, sayuran, dan berbagai jajanan pasar yang banyak digemari pembeli. Jajanan yang hanya bisa ditemukan setiap hari Ahad, karena tidak mudah menemukan pedagang makanan tersebut di hari-hari biasa.

Sebelum mencari bahan masakan untuk sarapan, kami pun mencoba membeli salah satu makanan yang dijajakan para pedagang. Antrean pembeli begitu banyak. Saya yang sangat jarang menyempatkan jajan di sana, sampai berpikir, betapa antusiasnya orang-orang membeli makanan ini, seenak apa sih?

Semakin banyak antreannya semakin penasaran pula. Sempat terpikir ingin menyerah, tidak lagi ikut mengantre ke sana. Namun melihat keseriusan akang penjual, saya mengurungkan niat untuk beralih jajanan.

“Pesen apa, Sep?” tanya akang penjual kepada anak saya di tengah-tengah kesibukannya melayani pembeli lain.  Ia menyapa dengan panggilan umum kepada anak laki-laki yang belum dikenal namanya.

Anak saya pun menunjuk makanan yang mau dibelinya. Dari pertanyaan yang dilontarkan oleh akang penjual, semakin bertambah pula lah keyakinan, bahwa saya tidak boleh beranjak dari sana dan harus terus memupuk kesabaran; menunggu giliran di bawah panas terik matahari yang mulai meninggi.

Walapun rejeki sudah diatur oleh Allah, tetapi boleh jadi kita lah yang justru ditakdirkan oleh Allah menjadi salah satu alasan/jalan sampainya rejeki kepada orang lain. Akang penjual sedang mencari rejeki. Maka kesabaran para pembeli untuk mendapatkan giliran adalah tambahan rejaki baginya.

Bayangkan jika para pembeli tidak memiliki kesabaran, nunggu dikit langsung marah, atau misalkan enggan antre dan menunggu giliran dengan tertib, maka apa yang terjadi. Mungkin akang penjual akan sangat kerepotan, terganggu dengan omelan dan caci maki, bahkan bisa jadi kehilangan para pembeli. Beruntung yang mengantre semua sabar menunggu giliran. Sebelum saya datang, beberapa pembeli setia menunggu giliran.

Kenapa saya malah mau nyerah? Toh sudah terlanjur mengantre juga. 

Giliran saya pun akhirnya sampai. Akang penjual memberikan pelayanan yang terbaik.

“Nanti beli ini lagi ya, Unda,” ujar anak jagoan saya ketika sudah mendapatkan jajanan yang diinginkannya.

Saya mengangguk sebagai tanda setuju. Dalam hati tumbuh janji, bahwa lain kali akan lebih bersabar lagi. Karena berbagi rejeki tidak harus melulu soal memberikan materi dalam jumlah banyak. Bersabar mengantre ketika membeli pun dapat membuat hati penjual menjadi senang karena tahu barang yang dijajakannya ternyata memiliki tempat di hati pembeli.

Besok-besok beli lagi, ya Kang. Insyaallah.

Semoga bermanfaat

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *