Pulang bukan selalu tentang kembali ke rumah. Kadang, pulang adalah saat kita merasa tak lagi sendiri dalam melangkah, meski arah kita belum tentu sama. Sekar tidak datang untuk mengganti siapa pun. Tapi kehadirannya adalah bukti bahwa hidup tetap menyediakan teman baru, kalau kita cukup tenang untuk mendengarnya.
Pesawat dari Kuala Lumpur mendarat di Bandung pada sebuah pagi yang berembun. Di jendela bandara, pegunungan Priangan terlihat samar, biru pucat di kejauhan, seperti lukisan yang belum selesai diwarnai. Kuring dan Sekar berdiri bersebelahan menunggu koper. Tidak ada yang bicara, tapi kehadiran mereka berdampingan terasa cukup.
Di antara keramaian para penumpang yang buru-buru, mereka berjalan perlahan. Kuring menoleh pada Sekar.
“Kamu mau langsung pulang ke Jakarta?”
Sekar menggeleng. “Tidak. Aku sudah pesan kereta ke Garut… tapi sore. Ada waktu.”
Kuring berpikir sejenak. “Kalau begitu, mau mampir dulu ke Cimahi?”
Sekar menatapnya, matanya lembut seperti biasa. “Boleh. Kalau kamu tidak keberatan.”
Kuring hanya tersenyum.
Kontrakan Kuring masih seperti biasa. Jendela tua, rak buku yang miring, dan meja tulis yang penuh kertas. Tapi kali ini, ada dua cangkir teh manis di atas meja. Sekar duduk di kursi dekat jendela, matanya menatap halaman kecil yang mulai ditumbuhi ilalang.
“Tempat ini… seperti ruang dalam puisi. Sepi tapi tidak kosong.”
Kuring duduk di seberang, menulis sesuatu di buku catatannya, lalu menutupnya.
“Kalau kamu mau, kita bisa mulai naskah itu di sini. Tak usah terburu-buru. Tak usah dipaksakan. Tulis saat tenang datang.”
Sekar mengangguk. “Aku suka cara kamu memperlakukan waktu.”
Selama dua jam, mereka duduk bersebelahan. Sekar mulai menulis di laptopnya. Kuring menyalin ulang puisi-puisi lama ke buku tulis baru. Tak ada dialog panjang. Hanya suara hujan ringan yang jatuh di atap seng. Kadang Sekar membaca pelan potongan kalimat yang ia ragu-ragukan. Kadang Kuring memberi saran dengan satu-dua kata. Semuanya mengalir, tak dibuat-buat.
Di dinding, jam tua berdetak lambat. Tapi waktu tak terasa beban. Ia menjadi sahabat, bukan penjaga.
Sebelum ke stasiun, mereka sempat mampir ke studio kecil di mana Kuring biasa membaca. Tempat itu masih hidup. Kursi-kursi bambu tetap berjajar. Lampu sorot masih remang. Sekar berdiri di tengah ruangan.
“Kalau kita jadi bikin naskah bersama, boleh kita baca di sini dulu? Sebelum orang lain.”
Kuring mengangguk. “Justru harus dimulai dari sini. Tempat yang tidak menuntut kita jadi siapa-siapa.”
Sekar mendekat ke salah satu papan kayu tempat pengunjung kadang menempelkan catatan kecil. Di sana, ia menulis di selembar kertas putih:
“Kadang suara yang kecil, justru terdengar paling dalam.”
Dan ia menyelipkan kertas itu di sela papan.
Sore menjelang. Kuring mengantar Sekar ke Stasiun Cimahi. Mereka berdiri di peron, menunggu kereta menuju timur.
“Kamu akan lanjutkan kegiatan di komunitas itu?” tanya Kuring.
“Iya. Tapi… kalau kamu menulis lagi, dan butuh teman berdiskusi, aku hanya sejauh surel.”
Kuring mengangguk. “Dan kalau kamu lelah menulis, kamu boleh datang. Kita bisa diam saja. Tapi diam yang cukup.”
Kereta datang. Sekar melangkah masuk. Sebelum pintu menutup, ia menatap Kuring.
“Terima kasih, ya.”
Kuring tersenyum. “Terima kasih juga. Sudah menjadi teman dalam diam.”
Kereta melaju, perlahan meninggalkan stasiun. Tapi kali ini, Kuring tidak merasa ditinggalkan.
Ia merasa diantar ke sebuah ruang baru dalam hidupnya—yang belum tentu indah, belum tentu panjang, tapi cukup.
Malam itu, Kuring duduk kembali di depan meja kayunya. Ia membuka buku catatan, dan menulis:
Catatan Ketujuhbelas:
“Pulang bukan selalu tentang kembali ke rumah. Kadang, pulang adalah saat kita merasa tak lagi sendiri dalam melangkah, meski arah kita belum tentu sama. Sekar tidak datang untuk mengganti siapa pun. Tapi kehadirannya adalah bukti bahwa hidup tetap menyediakan teman baru, kalau kita cukup tenang untuk mendengarnya.”
