Membangunkan anak-anak untuk pergi sekolah adalah hal yang paling melelahkan jika tidak dibiasakan sebelumnya.
Pagi-pagi yang sibuk, Si Kakak harus berangkat pagi karena sekolah jauh. Belum lagi, peraturan gubernur yang mengharuskan masuk pukul 06:30 membuat suasana rumah jadi tegang setiap hari. Kakak yang terlalu lambat bergerak membuat ibu merasa kehabisan oksigen. Sesak napas karena ayah hanya diam membatu, menyaksikan kericuhan ibu mondar-mandir menyiapkan segala sesuatu untuk sekolah anak-anak.
Sering dibuat salah paham. Kesal karena ayah hanya diam. Padahal ayah bukan diam tetapi hanya sedang mencoba meredam amarah. Karena setiap hari pusing kepala harus mendengar teriakan ibu yang stereo.
Ibu cemberut dan ayah hanya tersenyum. Ia melangkah dengan pelan ke kamar adik dan mencoba membujuk adik yang masih tertidur lelap.
“Jangan dulu dibangunkan, satu-satu dulu. Kakak saja belum berangkat, adik sekolahnya dekat kok nanti lagi saja!” ujar ibu setengah berbisik. Padahal saat berteriak kepada Kakak suaranya melengking nyaring.
Ayah hanya menggeleng, tidak bisa mengatakan apa-apa selain menurut. Banyak yang bilang nyawanya rumah adalah seorang ibu. Kalau ibu sedang marah dunia pun berubah. Peribahasa rumahku surgaku nyaris tak ada lagi.
Kakak sudah pergi, dijemput kendaraan abodemen yang dibayar per bulan. Ibu terlihat sudah lelah padahal hari baru saja dimulai. Ayah kini berani melangkah, membujuk adik yang masih kecil dan duduk di bangku kelas satu sekolah dasar untuk bangun dan segera pergi mandi.
“Bangun, Nak. Ayo sekolah!” katanya lembut.
Adik terbangun, mengucek mata dan mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya dengan gemas,
“Kan, dia lucu sekali, Ayah. Makanan ibu gak tega membangunkan dia terlalu pagi. Selain karena takut malah semakin ricuh pagi hari di rumah ini, Ibu juga merasa adik masih terlalu kecil untuk didisiplinkan,” keluh ibu. Kakinya melangkah cepat mengambil handuk. Tak lama kemudian meraih adik dan membawanya ke kamar mandi untuk membuatnya mandi.
Ayah keluar, menghidupkan motor siap mengantar. Sekolah adik leih dekat daripada kakak. Hanya memerlukan sekitar sepuluh menit perjalanan.
Ada sesak di dada. Ketika seorang ayah merenung hebat. Anak dua saja sudah membuat rumah gaduh setiap hari. Apa yang salah? Mengapa serepot ini? Apakah ini salah Gubernur yang membuat kebijakan sekolah terlalu pagi?
Ah, rasanya bukan itu. Ternyata ini karena kebiasaan yang diterapkan dalam rumah terlalu longgar. Kebijakan apapun yang diterapkan sebagai peraturan hidup bermasyarakat dan bernegara kalau di rumah sudah diterapkan disiplin dan mentaati aturan yang baik maka anak-anak seharusnya bisa melakukannya.
Apa yang salah? Apakah bangun pagi yang terlalu sulit?
Ayah merenung lebih dalam lagi. Ibu masih kerepotan melayani adik yang belum bisa pakai baju sendiri. “Cepat, waktunya sebentar lagi. Adik belum sarapan juga!” katanya dengan napas yang (seolah) tinggal di tenggorokkan. Ibu harus berlomba dengan waktu. Membuat adik bisa sampai di sekolah secepat kilat.
Ibu selesai dengan tugasnya membuat adik siap pergi ke sekolah. Ayah sudah siap di motor. Adik pergi dengan lambaian tangan dan ucapan selamat tinggal.
Ibu terduduk di kursi. Lemas. Melakukan evaluasi yang sama dengan apa yang dilakukan ayah tadi tanpa saling mengetahui satu sama lain.
Apa yang salah? Mengapa setiap pagi harus lelah seperti ini?
**
Ayah kembali ke rumah. Jam kerja masih tersisah satu jam lagi. Ayah siap berganti pakaian kerja, tetapi ibu masih terdiam.
“Ibu kenapa?” tanya ayah lembut.
“Ibu lelah. Mengapa setiap pagi harus berpacu dengan waktu? Anak-anak selalu susah siap ke sekolah,” katanya dengan mata berkaca-kaca. Ayah paham betul apa yang ibu rasakan.
“Bu, ini semua salah kita. Kita abai pada kewajiban kita sebagai orang tua. Harusnya mereka kita latih bangun pagi untuk menghadap tuhannya. Bukan karena mereka harus sekolah. Bayangkan, kalau mereka sekarang sudah terbiasa bangun pagi untuk solat subuh, kakak mungkin bisa siap lebih awal. Adik juga gak akan susah dibangunin dan gak akan rewel karena bangun kepagian.”
Ibu terdiam. Lalu menghela napas panjang. “Tapi adik masih kecil.”
“Bu, justru karena adik masih kecil. Tidak kah Kakak menjadi gambaran dan pelajaran untuk kita dalam menerapkan pola asuh pada adik?” Ayah menghela napas lebih panjang. Menyesali kelalaian selama ini sebagai ayah dan kepala rumah tangga.
“Bu,” ucapnya lagi. “Sekolah ada liburnya. Suatu hari mereka akan berhenti juga seperti kita menjadi dewasa dan tua. Namun ibadah harus bisa dan terbiasa mereka lakukan sepanjang masa.”
Ibu terisak. “Iya, Ayah. Kita yang salah. Ibu yang salah terlalu memanjakan mereka.”
“Sudahlah, mari kita mulai kembali dari awal ya. Ayah yakin ini belum terlalu terlambat.”
Ibu mengangguk patuh dan tidak sabar menunggu anak-anak pulang sekolah. Dalam dadanya sudah ada tekad untuk memulai kembali. Menjadi orang tua adalah proses belajar sepanjang masa. Dan ibadah anak adalah hal terpenting yang menjadi tanggung jawab para orang tua.
