Ramadan #19. Di tengah bulan puasa ini, langit seperti tak henti meratap. Hujan deras mengguyur bumi seakan ingin membersihkan segala luka. Rintiknya yang semestinya meneduhkan justru berubah menjadi derai tangis panjang.
Di balik rintik itu, ada kisah yang lebih dalam: air yang turun dari langit bukan sekadar tetesan biasa. Ia hadir dengan misi pengayoman, namun kerap berakhir menjadi duka karena ulah tangan manusia.
Hujan, dalam narasi alam semesta, adalah hadiah. Setiap tetesnya diantarkan malaikat kecil yang bertugas menjaganya hingga menyentuh tanah. Bayangkan: miliaran malaikat turun bersama rintik, memastikan air sampai ke tempat yang tepat—menyuburkan tanah, mengisi sungai, menghidupi akar-akar pepohonan. Air adalah nadi kehidupan.
Akan tetapi akhir-akhir ini, nadi itu tersumbat. Banjir dan longsor menjadi berita utama, seolah hujan adalah biang keroknya. Padahal, langit hanya menjalankan perannya. Masalahnya ada di bumi: hutan yang gundul, tanah yang tak lagi bisa bernapas karena beton, dan sungai yang dipaksa jadi tempat sampah raksasa.
Di bulan Ramadan, ketika manusia seharusnya merenung lebih dalam, hujan seperti cermin yang memantulkan dosa-dosa kita. Setiap tetesnya diiringi malaikat, sama seperti setiap langkah kita yang selalu ditemani Rakib dan Atid—saksi bisu yang mencatat amal baik dan buruk. Beda tugas, tapi sama-sama mengingatkan: tak ada yang luput dari pengawasan. Saat hujan berubah menjadi bencana, itu bukan karena malaikat pengiring hujan lalai.
Namun, karena catatan Rakib dan Atid tentang manusia terlalu banyak coretan kelam: eksploitasi alam, keserakahan, dan kelalaian.
Filosofi Islam mengajarkan bahwa alam adalah ayatullah—tanda kebesaran Allah yang harus dijaga. Tapi kita sering lupa. Hutan ditebangi untuk tambang, lahan resapan diubah jadi mal megah, dan sampah plastik menumpuk di selokan. Saat hujan datang, bumi tak lagi sanggup menelan air sebanyak itu. Banjir adalah jeritannya. Longsor adalah protesnya. Kita lupa bahwa tugas manusia sebagai khalifah bukan hanya memakmurkan, tapi juga merawat.
Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk mengembalikan keseimbangan ini. Saat kita menahan lapar dan dahaga, ada baiknya juga merenung: sudahkah kita “berpuasa” dari merusak bumi? Setiap tetes hujan yang jatuh di bulan suci ini mengingatkan bahwa berkah dan musibah itu beda tipis. Langit tak pernah salah menuangkan air. Masalahnya, bumi yang kita pijak sudah terlalu sakit untuk menerimanya dengan baik.
Mungkin ini saatnya kita mendengar tangisan hujan Ramadan. Bukan sebagai derai nestapa, tapi sebagai panggilan untuk berubah. Sebelum catatan Rakib dan Atid tentang kelalaian kita menjadi terlalu panjang. Sebelum tangisan langit berubah menjadi amarah yang tak terbendung.
Hujan akan tetap turun. Tapi apakah ia akan tetap menjadi berkah yang menangis, atau kembali jadi rahmat yang tersenyum? Jawabannya ada di genggaman kita—sambil berdoa, sambil bertindak. Karena di balik setiap tetes hujan, ada malaikat yang berbisik: “Jagalah bumi, sebelum bumi tak lagi menjagamu.”
