Ilustrasi ponsel jadul (gambar: Persona Mockups/Unsplash)
Di tengah hiruk-pikuk dunia digital yang makin mirip pasar malam (ribut, penuh warna, tapi suka bikin pusing), Gen Z melakukan sebuah gerakan diam-diam tapi brutal: meninggalkan smartphone dan memilih ponsel jadul.
Bukan karena ketinggalan zaman, tapi justru karena sadar: hidup ini butuh nafas, bukan cuma notifikasi.
Menurut laporan CNBC Indonesia, tren ini dimulai dari Amerika dan sekarang merembet ke mana-mana, termasuk ke negeri kita tercinta, Indonesia.
Yang dulunya sibuk swipe layar, kini sibuk tekan keypad gede-gede kayak zaman Nokia berjaya.
Gen Z Ini Lagi Cerdas-Cerdasnya, Kita yang Justru Harus Belajar!
Sebagai orang yang ngopi sambil mikir (lebih sering ngopinya sih), saya melihat langkah Gen Z ini sebagai tamparan halus untuk kita semua.
Kalau selama ini generasi tua ribut, “Anak sekarang mah, mata nempel sama layar!” Begitu HP-nya ditinggalin, malah pada panik –“Loh, lah… Lah terus update story makan batagor gimana?”
Padahal yang dilakukan Gen Z ini sederhan. Mereka mau balik ke hidup nyata. Hidup yang dirasakan, bukan sekadar dipamerkan.
Misi Rahasia Gen Z adalah Cari Diri Sendiri, Bukan Cari Followers
Beralih ke ponsel jadul itu kayak pakai “rem darurat” di otak. Telepon ya beneran telepon. SMS ya ngetik beneran, bukan sekadar ketik “hahaha” sambil nggak ketawa. Mau update status? Maaf, ini HP belum tentu ada kameranya.
Ini bentuk pemberontakan damai melawan dunia yang terlalu cepat, terlalu berisik, dan kadang terlalu palsu. Smartphone dulunya cinta pertama, kini berubah jadi mantan toxic. Gen Z udah capek. Lelah dibanding-bandingin. Capek dikejar FOMO. Terlebih, capek jadi “bahan bakar algoritma.”
Akhir Kalam
Fenomena ini ngajarin kita semua satu hal penting. Teknologi itu alat, bukan tuan. Kini gen Z lagi menunjukkan kepada dunia, bagaimana caranya kembali menjadi manusia, bukan robot yang hidup dari satu scroll ke scroll berikutnya.
Salut untuk gen Z. Semoga tren ini bukan cuma nostalgia sesaat, tapi beneran jadi gerakan mengambil hidup kembali dari genggaman algoritma kapitalisme digital.
Sekarang tinggal satu pertanyaan, yang senior-senior, mau ikut tobat digital juga? Atau masih mau upload selfie filter kupu-kupu sambil #throwback tiap jam?
Wallahu’alam
