Gak Bisa Bikin Kue Lebaran; Merasa “Gagal” Jadi Perempuan

Kue Lebaran

Sudah musim bikin kue lebaran, tapi kok saya gak pernah bisa bikin. Belajar sih pernah, tetapi serangkaian prosesnya yang panjang membuat saya merasa jenuh dan menyerah. Kalau latihan mungkin bisa kali ya?

Gara-gara gak bisa bikin kue lebaran ini beberapa kali Lebaran saya sering merasa “gagal” jadi perempuan. Soalnya yang identik dengan perempuan salah satunya adalah bisa memasak. Nah bisa bikin kue lebaran ini saya kategorikan sebagai salah satu kepandaian perempuan yang luar biasa.

Apalagi sebagian teman-teman sampai ada yang buka orderan dan meraup untung dari jualan kue kering untuk lebaran.

Lah, saya tiap lebaran datang hanya bertindak sebagai konsumen. Scroll lapak orang, lihat-lihat mana yang kira-kira banyak peminatnya dan memiliki testimoni yang memuaskan. Ya walaupun saya termasuk tim makanan asin seperti keripik bukan tim makan kue, setidaknya ada terpajang di meja lumayan buat tamu yang bertandang ke rumah sekalian ngeramein lebaran ya, kan? Lebaran kan memang biasanya banyak kue.

Read More

Namun kembali lagi, perasaan gagal sebagai perempuan karena gak bisa masak kue itu benar-benar menghantui saya musim lebaran ini. Sampai berpikir, apa saya sengaja belajar ya?

Lalu saya buka-buka resep. Melihat postingan orang masak dan disimak satu per satu dengan seksama. Lagi-lagi pikiran tentang keribetan bikin kue menguasai otak saya. Namun perlahan saya enyahkan. Pokoknya dalam hati berniat, pokoknya lebaran kali ini harus ada kue di meja yang merupakan hasil karya saya sendiri.

Akhirnya saya memutuskan untuk mencoba membuat salah satu resep. Kebetulan menemukan satu channel tutorial pembuatan kue yang mudah diikuti.

Saya pun mendata bahan apa saja yang harus saya persiapkan. Setelah saya data dan tulis ulang, kok ada beberapa bahan yang memang saya sendiri masih merasa asing. Bahkan belum pernah lihat bentuk dan wujudnya seperti apa.

Ah, akhirnya catatan itu saya simpan kembali. Padahal sudah mau pergi ke supermarket untuk mencari bahan-bahan itu.

Finally, saya kembali scroll lapak orang lain dan mencari lapak yang memang memiliki testimoni yang terbaik.

Dalam hati saya berkata, gak apa-apa… Gak bisa bikin kue mungkin bukan keahlian saya. Setiap perempuan pasti dititipkan keterampilan masing-masing yang unik sebagai salah satu kelebihannya.

Saya pun memejamkan mata. Merenungi keterampilan apa yang saya miliki dan berbeda dengan kebanyakan perempuan lain. Ya, saya yakin saya pun punya potensi.

Dalam hati saya berdoa, ya Allah semoga Engkau limpahkan rejeki yang penuh keberkahan agar hamba bisa membeli kue-kue enak karya tangan-tangan perempuan bertalenta di luar sana.

Adapun hamba, alhamdulillah tetap bersyukur atas apa yang Engkau anugerahkan. Hamba yakin, hamba pun bisa menjadi perempuan yang spesial walaupun hari ini tidak memiliki kepandaian masak memasak.

Saya pun tidak merasa gagal lagi jadi perempuan. Alhamdulillah.

Selanjutnya saya menghubungi teman yang suka membuat kue dan memang rasanya enak.

“Teh, pesen ya… Tiga toples….”


"Semua konten menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi RuangPena."

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *