Dongeng: Burung Hantu Pembalas Dendam

Burung hantu

Suara burung hantu begitu keras memekakan telinga. Ia bertengger di dahan pohon yang rendah, mengawasi dengan matanya yang tajam. Sayapnya siap mengepak untuk terbang cepat dan menerjang musuhnya.

“Maaak, Maaak …!” teriak Yaya di depan pintu rumah yang masih terkunci rapat.

Entah sudah berapa kali ia menggedor-gedor pintu tetapi emaknya tidak juga membukakan kunci dari dalam.

“Mungkin emak sedang solat, atau mungkin ketiduran. Tapi rasanya tidak mungkin emak tertidur saat langit barat masih berwarna jingga. Sepertinya emak memang sedang solat. Tapi kok, rasaya lama sekali emak solat,” gumam Yaya.

Read More

Yaya sudah tidak tahan berlama-lama di luar rumah dalam keadaaan setakut itu. Jantungnya berdegup kencang. Kakinya terasa lemas. Sekujur tubuhnya basah dengan keringat dingin.

“Maak!” teriak Yaya sekali lagi, “tolong lekas buka pintu!” Yaya tidak bisa lagi menunggu lama.

“ Iya, sebentar!” sahut emak dari dalam.

Emak membukakan pintu. Dengan segera Yaya masuk berhambur memeluk tubuh emak dengan erat. Tidak terasa isak tangisnya pecah. Anak laki-laki berusia 8 tahun itu benar-benar ketakutan. Emak hanya bergeming, tidak mengerti mengapa putranya setakut itu.

Emak menyuruh Yaya duduk, lalu pergi ke dapur hendak mengambil minum. Tapi Yaya enggan ditinggal. Ia tidak mau lepas dari emak, sehingga terus mengikuti langkah emak sampai ia menghabiskan segelas air yang diambilkan ibunya itu.

“Coba ceritakan, mengapa kamu ketakutan seperti itu, Nak!” ucap emak dengan lembut seraya mengelus bahu dan kepala Yaya, mencoba menenagkan anaknya yang masih gelisah dengan tubuh yang gemetar.

“Aku dikejar burung hantu, Mak. Burungnya besar, terbangnya begitu rendah, sampai aku merasakan angin yang berembus dari kepakan sayapnya. Aku berlari sekencangnya dan burung itu menghadangku di depan belokan depan rumah kosong yang di depan itu, Mak.” ujar Yaya dengan napas yang terengah-engah. Kepada ibunya, Yaya menceritakan apa yang baru saja dialaminya.

“Lalu burung hantu itu hinggap di dahan kayu yang tingginya sebahuku, Mak. Matanya menatapku tajam. Dia seolah berbicara padaku ‘awas kamu, Yaya, akan aku bunuh, Kau!’ Aku lari sekencangnya dan mengetuk pintu berkali-kali. Tapi Emak tidak juga membukakanku pintu,” tutur Yaya dengan nada kesal dan bibir yang cemberut.

“Lantas, kemana burung hantunya sekarang?” tanya emak tersenyum. “Biar emak usir, karena ia telah berani mengejar anak Emak sematawayang.”

Emak membuka jendela dan memandang ke luar. Suasana hening tergambar. Angin dingin menyeruak masuk ke dalam rumah. Mengibaskan kerudung emak yang sudah lusuh.

Tidak ada apa-apa, bisik hati emak.

“Sekarang Yaya solat dulu biar lebih tenang!” perintah emak. Yaya mengangguk dan bergegas pergi untuk mengambil air wudhu.

**

Malam semakin pekat, ketika Yaya selesai dari salatnya. Gelap menjalar ke seluruh permukaan bumi. Bulan bersembunyi di balik awan. Malam itu mendung. Membuat suasana magrib semakin senyap. Tidak lama kemudian emak menutup kembali daun jendela rapat-rapat. Mimik mukanya berubah menjadi muram.

“Kenapa Mak?” tanya Yaya terheran-heran demi melihat mimik muka emak yang seketika berubah. “Apa Emak melihat burung hantu itu?” Yaya penasaran.

“Tidak apa-apa!” jawab emak datar. Emak beringsut, menjauh dari jendela. kemudian duduk terpaku di kursi. Emak tampak mengusap-usap telapak tangan terlihat gelisah.

“Mak, apa jika ada burung hantu itu tandanya ada hantu yang mengikuti kita?” tanya Yaya lagi. Anak kecil itu duduk merapatkan dirinya kepada emak. Rasa takut kembali menguasai dirinya.

“Tidak!” jawab emak singkat. Lalu ia pergi ke kamar. Yaya mengikuti dari belakang.

Emak duduk di sisian ranjang tua. Sepreinya sudah hampir tidak berwarna. Lusuh dan kusam. Ranjang itulah tempat mereka berdua tidur bersama. Rumah mereka kecil dan hanya memiliki satu kamar tidur saja. Ruang tengah yang sempit, dapur dan sebuah kamar lagi yang biasa digunakan untuk solat.

Mata emak berkaca-kaca. Lalu perlahan ada bulir air mata yang mengalir di kedua pipi emak.

“Mak, kenapa menangis?” Yaya bertanya seraya mendekati ibunya semakin rapat. Tangan kecilnya memeluk tubuh emak. Orangtua satu-satunya yang ia miliki. Hartanya yang paling berharga. Bahkan di dunia ini hanya emak yang ia punya.

Bapak sudah lama meninggalkan mereka berdua. Yaya pun tidak tahu apakah bapak pergi mencari uang untuk biaya hidup mereka ataukan sudah meninggal dunia. Seingat Yaya, setiap kali dirinya bertanya kepada emak, emak tidak pernah mau memberi penjelasan. Hingga saat ini Yaya tidak pernah bertemu dengan bapak. Wajahnya pun ia tidak tahu.

Emak berdiri. Lalu membuka laci lemari pakaian. Diraihnya sebuah bingkai yang sudah berdebu. Sebuah poto lelaki terpampang di balik kaca bingkai itu. Lelaki yang cukup tampan dan rupawan. Yaya melongo, menahan napas, hendak bertanya siapakah dia. Tapi dalam hatinya yakin itu adalah pertama kalinya ia melihat sosok sang ayah.

Emak menangis terisak, membuat Yaya ikut bersedih. Air matanya berlinang membasahi pipinya. Emak memeluk tubuh Yaya beserta bingkai poto tersebut. Yaya membalas pelukan emak dengan erat, hingga emak melepaskan pelukannya perlahan.

“Yaya anakku …” ujar emak lirih. “Inilah sosok ayahmu.” Isak tangis emak lepas kembali.

Yaya hanya terdiam memberi kesempatan emak untuk bisa berbicara lebih lancar lagi. Dalam hatinya ia ingin sekali mendengar cerita tentang bapak lebih banyak. Emak menghela napas panjang. Lalu melanjutkan ucapanna.

“Bapak meninggalkan kita ketika Kamu masih berusia 8 bulan. Masih sangat kecil. Bapak bekerja sebagai pemburu. Setiap hari ia membawakan kita makanan dari hutan. Entah itu kelinci, ayam hutan, atau rusa jika bapak sedang beruntung maka dagingnya dijual ke pasar. Tapi… “

Emak tidak kuasa melanjutkan kalimatnya. Isak tangisnya lagi-lagi pecah untuk kesekian kali membuat hati Yaya ikut merasa pilu.

Burung hantu bersuara nyaring di atap rumah. Membuat Yaya kembali merasakan ketakutan. Ia berhambur ke pelukan Emak mencari perlindungan dan rasa aman. Tatapan tajam burung hantu di depan mata saat ia pulang dari langar magrib tadi masih terbayang di pelupuk matanya. Emak memeluk erat tubuh anaknya. Lalu melanjutkan ceritanya.

“Kamu ingin tahu bapakmu meninggalkan kita karena apa?” ujar emak, diikuti anggukan Yaya perlahan.

“Sore itu ada tamu tidak dikenal datang mengunjungi rumah kita. Ia mengetahui bahwa bapakmu ahli dalam berburu. Tamu tidak dikenal itu meminta bapakmu menangkap sepuluh burung hantu dan menjanjikan bayaran yang sangat banyak. Selama beberapa malam bahkan berminggu-minggu emak ditinggalkan sendirian di rumah mengurusimu.

Bapak lupa diri, tiap malam pergi dan pulang dini hari dalam keadaan lelah. E ekor burung hantu terkumpul. Tidak jarang bapak pulang dengan kaki dan tubuh yang berdarah-darah. Tetapi ia selolah tanpa rasa lelah dan bosan terus menerus berburu burung hantu.

Sampai suatu malam ia pulang menyempurnakan jumlah buruannya. Keesokan harinya bapak mendapatkan sejumlah uang yang emak tidak tahu berapa jumlahnya. Namun setelah itu bapak pergi dan tidak kembali. Hingga usiamu 4 tahun emak baru mengetahui kabar sebenarnya. Ternyata bapak mu telah meninggal dunia saat ia menerima tantangan baru berburu burung hantu ke hutan gelap. Emak pun baru tahu ternyata imbalan dari berburu burung hantu itu sangatlah besar,” kenang emak dengan suara parau dan berlinang air mata.

“Jadi, bisa saja burung hantu itu salah satu burung yang ingin membalas dendam kepada bapak, Mak? Makanya dia mengejarku sampai seolah ingin membunuh dan menghabisiku dengan cakar dan paruhnya?” tanya Yaya kepada emaknya.

Hatinya hancur mendengar kisah yang baru saja diceritakan oleh emaknya. Berbagai perasaan bercampur aduk dalam dadanya. Anak yang baru saja mengetahui wajah bapaknya, merasa bangga karena bapaknya pemburu yang hebat, kemudian harus menerima kenyataan pahit bahwa bapaknya sudah tiada.

Air mata Yaya mengalir deras menerima kenyataan itu. Tubuhnya berguncang menahan isak tangis yang menjadi-jadi. Tangannya memeluk erat tubuh emak yang diam tetap bergeming. Burung hantu di atas atap rumah mereka tetap mengeluarkan suara-suara yang menakutkan, tanpa henti, seolah ikut puas dengan terungkapnya kenyataan yang baru saja terkuak selama bertahun-tahun lamanya.

Burung hantu tetap bertengger di atas atap hingga emak dan Yaya terlelap dalam perasaan lelah karena tangisan yang tiada henti. Sesaat sebelum Yaya tertidur, emak memberikan nasihat agar Yaya tidak lagi pulang terlalu petang. Sebelum matahari terbenam, Yaya harus sudah di rumah bersama emak.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *