Gambar Ilustrasi: Rizky Rahmat Hidayat (unsplash)
Sebagai manusia normal yang memiliki hati, curahan hati untuk negeri ini saya tulis dengan penuh kesadaran. Tanpa bermaksud menyinggung siapa-siapa. Ini hanyalah ungkapan hati seorang manusia biasa yang yang masih memiliki cinta kepada negerinya Indonesia. Sekadar ingin menuangkan apa yang dirasakan dalam bentuk tulisan. Karena kalau pun bicara, mau bicara kepada siapa? Seseorang yang seharusnya mendengarkannya tidak mungkin bisa dijangkau begitu saja. Jadi jangan heran, jika tulisan ini sedikit meracau kemana-mana.
Keresahan ini muncul sejak lama. Hidup nyaris kepala empat sudah cukup membuat saya melewati beberapa musim kebijakan. Dulu, masih bisa diam sambil manggut-manggut dan garuk-garuk saja. Nemun kini, semakin menyimak apa yang terjadi di negeri ini semakin bikin gereget. Walaupun bukan seorang pengamat politik, tetapi rasa kecintaan kepada negeri sudah cukup untuk membakar hati ini untuk menyuarakan isi hati.
Makin nyimak, makin merasa kudu banyak-banyak beristighfar. Kian hari kian banyak hal yang membuat kepala jadi mumet.
Serba salah memang, gak disimak, kita tuh punya rasa cinta yang besar buat negeri ini. Selalu pengen tahu tentang kabar terbaru. Namun makin disimak, ya begitu. You know lah. Jadi ya, gak bisa lagi buat pura-pura gak tahu.
Sebenarnya suka takut sendiri. Khawatir kerunyaman dan kemumetan dalam kepala ini berubah jadi kebencian yang kian menjadi. Takut jatuhnya malah menumpuk dosa kalau terus merasa benci dan mengumbar hujat, caci maki. Terlebih ini adalah bulan Ramadan; bulan yang suci. Sejatinya kita harus membersihkan hati, jangan sampai dipenuhi dengan benci, iri, dengki dan berbagai bentuk penyakit hati.
Akan tetapi, memang tidak bisa dipungkiri. Semakin lama, semuanya semakin membuat putus asa. Kok gini banget ya? Kirain yang sudah lalu itu yang akan menjadi era paling kacau. Ternyata eh ternyata ….
Gak salah kalau banyak orang yang milih kabur aja ke luar negeri. Karena sudah muak di negeri sendiri. Berharap bisa melupakan sejenak kekisruhan yang ada di negeri orang.
Memangnya siapa yang sanggup menderita di “rumah” sendiri?
Pernah hinggap di pikiran juga, bahwa saya yang bukan bagian penting dari bangsa ini saja rasanya ingin kabur juga. Saya bukan pejabat/politisi berhati lurus dan jujur yang merasa terkhianati karena dicurangi. Bukan pula keturunan pahlawan nasional meskipun ketika kecil kakek selalu bercerita bahwa ia turut berjuang melawan penjajahan Belanda di masa mudanya.
Bahkan pernah sama-sama berkhayal bersama teman yang jika memang kami sudah bosan berada di Indonesia. rasanya ingin kabur juga seperti meraka yang memiliki kebebasan finansial untuk pergi ke mana saja.
Namun nyatanya, kalaupun kabur, kabur kemana? Apa daya saya sebagai manusia biasa yang gak bisa apa-apa. Jangankan ongkos pergi untuk “kabur” ke negeri orang, untuk makan sehari-hari pun harus peras keringat, banting tulang di negeri yang dulu sering saya dengar dalam syair lagu, katanya kaya raya, subur makmur ini.
“Apa pergi ke alam lain saja ya?” gurau teman saya.
Jadinya, hanya bisa berserah diri, ketika kita tidak mampu kemana-mana menggunakan kendaraan eksekutif, maka tidak ada pilihan lain selain tetap menetap menjadi sesuatu yang tetap tinggal dalam ketidakpastian.
Seorang teman pernah bercerita, bahwa kawan dekatnya sampai rela menjual semua barang berharga karena mau nekat pergi ke Jepang, mencari penghidupan di sana. Saking sudah putus asanya.
Belakangan saya paham. Bahwa yang subur makmur itu hanya mereka yang berani berjanji akan mengurus negeri dalam kampanyenya menjelang musim pemilu. Kemakmuran bukan untuk kita yang hanya rakyat biasa.
Apa-apa mahal, padahal katanya diambil dan ditambang dari perut bumi negeri, tanah air sendiri. Sebelah mana makmurnya? Kalau menginjak tanah moyang dan hidup di atasnya saja harus bayar pajak? Semua sumberdaya yang seharusnya menjadi hak kita seolah diambilnya.
Saya masih berusaha mengerti ketika pajak dikabarkan naik, barang-barang kebutuhan menjadi mahal. Oh, mungkin negara memang sedang benar-benar sakit. Ya, berdoa saja semoga selalu ada rezeki untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu.
Akan tetapi setelah kasus per kasus tikus berdasi terungkap ke permukaan, rasanya ini jauh lebih dalam daripada sekadar perasaan kecewa. Bahasa Indonesia pun tidak mampu menghadirkan kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaan sepelik ini.
Bulan suci Ramadan adalah bulan yang penuh rahmat. Waktu yang mustajab jika berdoa.
Ada dua hal yang ajaib di bulan ini. Pertama karena bulannya bulan mustajab doa, kedua karean doa orang yang terdzolimi juga dikaulkan tanpa hisab.
Jadi, salahkah kalau saya berdoa banyak-banyak agar mereka yang telah mengambil manfaat dari negara ini untuk kepentingan pribadi itu diambil saja semua kesenangannya? Kalau ambil nyawa terlalu instan sih. Biar merasakan aja dikasih balasan kayak di film-film azab itu. Seru kali ya nyimaknya.
Namun, Islam tidak menghendaki demikian. Kita diajarkan untuk berdoa dengan kalimat dan permohonan terbaik. Jika mau minta, maka mintalah kepada Allah hal-hal yang baik untuk negeri ini. Meminta kedamaian dan kemakmuran negeri, kesejahteraan untuk semua penduduknya, pemerataan kesehatan dan pendidikan, dan semua hal yang membuat semua orang betah tinggal dan bangga pada negerinya sendiri. Gak perlu kabur lagi. Bahkan harus bisa membuat mereka yang ada di luar negeri ingin kembali ke Indonesia lagi.
Namun, untuk mewujudkan itu semua, mari terlebih dahulu kita doakan. Semoga Allah memberikan hidayah kepada para petinggi dan pemangku kebijakan agar tersadarkan dan kembali ke jalan yang lurus. Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya, karena kabut dosalah yang menutupi nurani mereka sehingga bermudah-mudah melakukan kesalahan dan kedzoliman dengan sengaja.
Semoga Allah mengabulkan doa baik yang dilangitkan oleh seluruh rakyat Indonesia. Hingga Indonesia menjadi terang benderang bukan lagi berwujud sebagai Indonesia gelap.
Semoga, semoga dan semoga …..
Lekaslah pulih negeriku. Lekaslah terang benderang. Bangkit, bangkitlah. Saya dan seluruh Indonesia tentu sangat mencintaimu. Kecuali mereka para tikus rakus dan para pejabat yang ….
Harusnya lebih panjang dari ini sih. Namun, ah, sudahlah.
