Hari ini aku kembali merenung tentang kata “menang.” Sejak kecil, kita diajari bahwa hidup adalah perlombaan menuju puncak. Bahwa masa depan pasti lebih baik, asal kita cukup rajin, cukup sabar, cukup disiplin. Namun semakin aku dewasa, semakin terasa bahwa dunia tidak pernah sesederhana itu. Ada hari-hari ketika langkahku terasa berat, ketika harapan tentang “besok yang lebih baik” hanya menjadi penghiburan kecil agar aku tetap bergerak.
Di jalan, aku melihat bagaimana segala sesuatu berkompetisi. Pohon-pohon besar saling menaungi, burung-burung berebut tempat bertengger. Begitu pula manusia: murid bersaing memperebutkan peringkat, pekerja berebut kursi promosi, bahkan dalam hal-hal pribadi seperti hubungan atau mimpi, kita tetap menempatkan diri dalam perbandingan. Aku pun sering terjebak di dalamnya. Rasanya kegagalan bukan lagi sekadar peristiwa, melainkan identitas yang melekat. Ada saat-saat aku merasa bukan hanya gagal dalam hal tertentu, tetapi aku sendiri adalah kegagalan itu.
Namun ketika aku menengadah ke langit malam Cimahi, aku diingatkan bahwa semesta pun tidak pernah sempurna. Bintang-bintang yang tampak abadi ternyata meredup, galaksi bertabrakan, energi menyebar hingga tak lagi berguna. Entropi adalah hukum dasar dunia. Jika alam semesta saja bergerak menuju ketidakteraturan, mengapa aku harus menuntut hidup yang rapi dan sempurna? Kesadaran itu membuatku sedikit lebih tenang: kegagalan bukanlah aib pribadi, melainkan bagian dari cara dunia bernapas.
Sejarah pun mengajarkan hal serupa. Napoleon yang pernah dianggap tak terkalahkan akhirnya runtuh karena tubuh manusia tak mampu melawan dinginnya Rusia. Marie Curie, yang menemukan radium, meraih Nobel sekaligus kehilangan hidupnya karena zat yang ia kagumi. Kemenangan besar selalu dibangun di atas kegagalan, pengorbanan, dan kerentanan. Namun dunia lebih suka merayakan keberhasilan dan menghapus bagian yang menyakitkan. Kita dipaksa percaya bahwa hidup hanyalah narasi kemenangan tanpa luka. Padahal luka itu nyata, dan justru di sanalah letak kemanusiaan.
Di masa kini, meritokrasi membuat beban semakin berat. Pesan yang berulang: siapa pun bisa sukses jika berusaha cukup keras. Sekilas terdengar membebaskan, tetapi di baliknya ada tuduhan halus: jika gagal, berarti salahmu sendiri. Padahal aku tahu, kita tidak pernah memilih keluarga tempat kita lahir, kondisi ekonomi, kesehatan mental, atau lingkungan sosial. Hidup tidak sesederhana itu. Namun pesan meritokrasi membuatku merasa malu bukan hanya karena gagal, tetapi karena tidak cukup sempurna dalam mengelola hidup yang sejak awal sudah timpang.
Malam ini aku menulis dengan perasaan yang lebih jujur. Aku ingin menerima bahwa kegagalan adalah bagian dari hidup, bukan musuh yang harus dihapus. Kegagalan adalah nafas dunia. Ia hadir di setiap lapisan, dari bintang yang meredup hingga manusia yang kehilangan pekerjaan. Alih-alih menolak atau menganggapnya aib, aku ingin melihat kegagalan sebagai ruang untuk memahami diri, untuk merasakan hidup apa adanya.
Mungkin aku tidak akan selalu menang. Mungkin besok tidak lebih baik. Tapi ada nilai dalam bertahan, dalam merayakan proses, dalam mengakui bahwa hidup tidak selalu rapi. Dan mungkin, justru di sanalah kebebasan itu: keberanian untuk tetap hidup meski dunia tidak pernah sempurna.
—
