Ilustrasi Bunga (gambar:Mahen Rin/Unsplash)
Sepuluh tahun. Usia yang terlalu dini untuk memahami bahwa kepergian seorang ibu bukan sekadar perpisahan sementara. Tahun 1991, langit masa kecilku runtuh. Ibu pergi, meninggalkan ruang kosong yang tak pernah terisi. Sampai hari ini, aroma melati yang ia sukai masih membayang di ingatan, seolah mengingatkan bahwa di suatu tempat, di antara bunga-bunga dan doa, ia masih tersenyum.
Saat itu, dunia terasa seperti kertas yang tiba-tiba sobek. Saya yang baru menginjak usia sepuluh tahun harus belajar menelan kesepian. Tak ada lagi tangan yang membelai kepala saat demam, tak ada suara lembut yang menenangkan ketika mimpi buruk datang. Hidup berubah menjadi serangkaian pertanyaan tanpa jawab: Bagaimana cara bertahan tanpa pelukan ibu? Bagaimana menjelaskan kerinduan yang tak terucap?
Ibu dimakamkan di Desa Cililin, sebuah kampung tenang di antara bukit-bukit hijau yang ia cintai. Sementara itu, saya tumbuh di Pangandaran, di mana debur ombak dan gemerisik daun kelapa menjadi saksi bisu perjalanan hidup saya. Jarak tiga ratus kilometer antara kami bukan hanya soal geografi, tapi juga luka yang tak kunjung mengering. Setiap Idul Fitri, ketika orang-orang ramai pulang ke kampung halaman, saya hanya bisa menatap foto ibu di dinding, membayangkan makamnya yang mungkin sudah dipenuhi bunga.

Nyekar —tradisi yang bagi sebagian orang adalah ritual sederhana, tapi bagi saya adalah mimpi yang tak kesampaian. Kata itu berasal dari sekar, bunga dalam bahasa Jawa. Bukan sekadar menabur kembang di nisan, nyekar adalah cara merajut kembali kenangan, mengirim rindu lewat kelopak-kelopak yang harum. Di Jawa, tradisi ini dilakukan menjelang Ramadan atau Lebaran, saat keluarga berkumpul membersihkan makam, mengirim doa, dan bercerita pada yang pergi. Tapi bagi saya, nyekar selalu terhalang waktu. Pekerjaan, jarak, dan tuntutan hidup membuat kaki ini tak bisa melangkah ke Cililin.
Suatu pagi di hari Lebaran, saya duduk di teras rumah, memandang langit Pangandaran yang biru. Di tangan, segenggam bunga melati kering—peninggalan ibu yang saya simpan dalam kaleng bekas biskuit. “Maafkan anakmu, Bu,” bisik saya, sambil membayangkan wajahnya yang samar. Bagaimana rasanya menabur bunga di makam sendiri? Apakah doa dari jauh cukup sampai?
Tradisi nyekar mengajarkan bahwa mendoakan orang yang telah pergi adalah bentuk cinta yang tak terputus. Tapi hati ini sering memberontak. Ada rasa bersalah yang menggerogoti: Mengapa saya tak bisa seperti anak-anak lain yang dengan mudah menyentuh nisan orang tua mereka? Di tengah keramaian Lebaran, ketika tetangga bercerita tentang ziarah ke makam keluarga, saya hanya tersenyum kecut. Diam-diam, saya menulis surat untuk ibu di buku harian, mengirimkan keluh kesah lewat kata-kata yang tak terbaca.
Namun, waktu mengajarkan saya arti ketegaran. Jika tak bisa menabur bunga di makam, saya belajar menabur doa di hati. Setiap malam Jumat, saya menyalakan lilin kecil, membaca Surah Yasin, dan membayangkan ibu tersenyum di antara cahaya. “Ibu, semoga engkau tenang di sisi-Nya,” ucap saya berulang kali, seolah mantra yang bisa menembus dimensi.
Tahun lalu, saya akhirnya berkesempatan mengunjungi Cililin, bukan di hari Lebaran, tapi di bulan biasa. Makam ibu terawat baik, dikelilingi pohon-pohon randu yang rindang. Saya membersihkan rumput liar, menaburkan bunga krisan putih, dan duduk lama di sana. Angin berbisik pelan, membawa rasa damai yang selama ini saya cari. Saat itu, saya baru paham: mungkin nyekar bukan hanya soal waktu atau tempat. Ia adalah tentang niat yang tak pernah padam, tentang cinta yang tetap hidup meski terpisah tanah dan langit.
Kembali ke Pangandaran, saya membawa segenggam tanah dari makam ibu. Tanah itu saya simpan dalam pot kecil, tempat saya menanam melati. Kini, setiap kali bunga itu mekar, saya seperti mendengar suaranya: “Jangan sedih, Nak. Ibu selalu di sini.”
Hidup tanpa ibu memang seperti taman tanpa matahari. Tapi saya belajar bahwa rindu bisa diubah menjadi doa, dan jarak takkan pernah memutuskan ikatan jiwa. Nyekar tak harus selalu dengan bunga segar di makam. Kadang, ia bisa berupa air mata yang dikirim lewat senja, atau senyum yang kita sematkan saat mengenang hal-hal indah.
Ibu mungkin sudah tiada, tapi setiap kali melati di pot itu bermekaran, saya yakin: di suatu tempat, di antara bunga-bunga dan ayat-ayat suci, ia sedang tersenyum.
