Baru seminggu berlalu. Namun hati ini masih terasa begitu pilu. Melepasmu terpisah dari rumah rasanya berat sekali. Meskipun nyatanya anak laki-laki harus menjadi pemberani, tetapi melepasmu saat baru lulus SD untuk menempuh pendidikan di pondok pesantren gak segampang yang dibayangkan.
Kemarin lusa, ustaz mengirim fotomu yang berderet bersama teman-teman saat sedang melakukan olahraga. Kamu tahu, Nak? Dada Unda terasa sesak dengan luapan rasa yang entah apa.
Kata orang, mengapa sesedih itu melepasmu?
Tanpa bisa Unda ceritakan pada mereka, Unda hanya bisa tersenyum getir mendengar pertanyaan itu. Tanpa mereka tahu, bagi Unda kamu adalah permata hati yang lebih dari apapun.
Unda gak akan lupa bagaimana perjuangan dan penerimaanmu saat kita berdua hidup seadanya. Gak punya uang, dan harus berhemat demi makan hari esok. Kamu gak pernah keberatan kalau diajak jalan kaki bepergian.
Kamu gak pernah rewel walau makan sama telur dan tahu setiap hari. Unda juga ingin membelikan kamu makanan enak seperti yang ibu lain berikan pada anaknya. Namun waktu itu, kondisi kita dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Namun kamu selalu tersenyum dan menguatkan Unda.
Saat Unda tak kuasa menahan tangisan, tangan kecilmu mengusap bahu Unda dan mengatakan, “Un, jangan nangis, nanti aku ikut sedih.”
Bibirmu bergetar, tak lama kemudian kamu memeluk Unda dan ikut nangis sesenggukan. Padahal Unda gak pernah memberitahu sedih karena apa. Namun hatimu yang begitu lembut langsung menangis karena melihat ibumu bersedih.
Unda juga gak akan lupa saat wabah Covid melanda. Ketika Unda diisolasi mandiri, kamulah yang mengurus Unda dari A sampai Z. Unda berusaha untuk segera sembuh karena tak tega mendapati kenyataan sakit parah dirawat anak usia delapan tahun.
Kamu yang siapin Unda obat, yang antar Unda ke kamar mandi, yang kompresin Unda ketika panas tinggi dan menyelimuti Unda saat badan menggigil. Kamu juga yang masakin makanan untuk Unda makan.
Lalu ketika itu, matamu basah karena kamu pun kehilangan penciuman.
“Unda, ayo kita berjemur, biar cepet sembuh,” katamu sambil menopang tubuh Unda yang masih sempoyongan. Lalu kamu baru jujur kalau kamu pun kehilangan penciuman. Kamu menangis di pelukan Unda. Di bawah matahari yang mulai terik, kamu bilang, “Un, aku juga gak bisa nyium bau. Kalau aku sakit siapa yang akan jagain Unda?”
Sakit. Sakit sekali rasanya dada ini. Sesak bahkan ketika Unda menuliskan ini saat ini. Kerudung Unda basah karena deraian air mata.
Nak… Banyak sekali perjuangan yang sudah kamu korbankan untuk Unda. Terima kasih karena sudah bertahan begitu hebat. Dan saat keluarga kita kembali utuh, kamu malah harus Unda simpan di pondok pesantren.
Bukan, bukan karena tak sayang. Semua ini untuk kebaikanmu meskipun sekarang malah Unda yang merasa tidak baik-baik saja.
Melihat bajumu, melihat kamarmu, melihat makanan kesukaanmu, bahkan merasakan sepi di siang hari saat Unda menulis pun Unda kadang tak tahan merasakan sesaknya kerinduan. Padahal betul, ini baru saja seminggu berlalu.
Nak, biasanya sebentar lagi ada yang mengucap salam. Kamu datang dengan baju merah putihmu yang keluar dari sabuknya. Kamu menyalami Unda setelah lebih dulu menyimpan tas dan sepatu di tempatnya.
Kamu memeluk Unda dengan erat, selama 3-5 detik. Unda bisa mencium bau matahari bercampur keringat. Lalu kamu bilang, “maaf, tadi main bola dulu,” sambil tertawa.
Kamu akan duduk dan bercerita tentang yang terjadi di sekolah. Hal seru, lucu, sampai yang bikin kamu kesal. Sampai belakangan kamu bercerita tanpa beban, “ada yang suka sama aku di kelas.”
Nak, akan Unda tunggu masa pertemuan kita walau masih sangat lama. Andai Unda bisa mempercepat waktu, ingin sekali Unda memelukmu saat ini juga.
Sehat-sehat di sana ya, Nak. Semoga Allah memberikanmu kemudahan dalam menuntut ilmu syar’i. Unda dan Ayah akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Baru seminggu berlalu, kita masih harus menghitung hari untuk bertemu.
Salam sayang,
Unda.
