AKU MENUNGGUMU

Aku menunggumu

Tuk tuk tuk.

Ada pesan masuk dengan nada khusus ke whatsapp ku nada itu menandakan bahwa Helmi mengirim sesuatu. Saat itu aku baru selesai beres-beres kamar kost bersiap untuk berangkat ke kampus. Kubaca pesan, senyumku terkembang.  Padahal isi pesannya tak seberapa.

“Kalau masuk beritahu ya!”

Aku menjawab pesannya dengan singkat “iya Helmi.”

Read More

Sepanjang perjalanan menuju kampus aku tetap saja tersenyum sendiri dan membayangkan jika nanti di kelas aku bertemu dengannya. Walaupun hanya bertemu dan bicara seperlunya, tapi itu sudah sangat membuatku merasa bahagia.

Di kampus aku bertemu Rita yang telah lebih pagi datang dan duduk di kelas sendirian.

“Rita kamu disini sudah lama?” tanyaku.

“Aku disini sejak pagi, ku kira ada kuliah pagi hari ini,” jawab Rita dengan nada menyesal.

Lima belas menit kemudian dosen masuk dan membuka perkuliahan, aku segera mengirim pesan singkat pada Helmi.

 “Helmi, masuk.”

“Iya, aku siap siap dulu”

“Agak cepat bisa gak? Si bapak buru buru nih, katanya gak bakalan lama di kelas,” balasku.

“Oh iya, sebentar lagi aku berangkat.”

“Oke”

Saat kuliah aku mencemaskan Helmi yang tak kunjung datang.

“Jangan jangan dia ketiduran lagi, emh kebiasaan deh,” gumamku. Namun tiba tiba ponselku bergetar dan ternyata beberapa kali Helmi mengirim pesan padaku.

“Fiiiiiiiiaaaaa, masih bisa masuk gak?”

“Fiaaaaaaaaa, ruang berapa sih?”

“Fiiiiiaaaaa!”

Segera kujawab, “Iya iya Hel, bisa masuk bisa sini ruang sebelas cepet masuk!”

“Oh iya, makasih.”

Perkuliahan selesai, aku pulang sendiri ke kostan. Sudah menjadi hal yang biasa ketika kostanku menjadi tempat berkumpul teman-teman, saat aku pulang pasti banyak yang bertanya “kapan kamu ke kostan?” atau “sini aku antar.” Padahal aku tahu betul mereka ingin menghabiskan waktu setengah harinya di kostanku.

Siang itu Helmi mengirim kembali pesan singkat padaku.

“Dikostan ada siapa?”

“Ada anak anak nih biasa, ada apa? kenapa? gimana?” Ku menjawab dengan bombardir pertanyaan.

“Biasa aja kali, aku cuma mau main, tapi ya ampun males banget, mana panas lagi.”

“Ya udah ga usah kemana mana, apa susahnya?.”

“Ih kamu, nanti aku kesana deh lagi ngumpulin semangat nih.”

“Iya silakan.”

“Oke.”

Sebenernya aku agak degdegan juga. Ngapain coba Helmi main ke kostan sengaja siang bolong kayak gini. Biasanya juga dia ngabisin waktu dipake tidur atau ngegame seharian. Kalaupun ke kostan biasnya ada perlu. Nah ini cuma main aja, iya gitu?

Rasanya terasa seperti mimpi nih. Gengsi jika aku bilang selama ini aku sebenernya menginginkan suasana seperti ini.

Aku mencoba untuk bersikap biasa saja, berusaha agar aku tak berpikir kemana mana. Sebab aku tahu, aku di sini yang salah, menodai persahabatan seperti ini, aku menaruh harap terlalu jauh padanya.

Maafkan aku Helmi!

Helmi benar-benar datang ke kostanku tanpa basa basi. Dengan percaya diri dia masuk ke kamarku membuka pintu dan duduk selonjoran sambil main ponsel,

“Ah disini gerah ya.”

“Emang!”

Aku berusaha menjawab dengan nada ketus di depan teman teman, bahkan di depan Helmi. Sebenrnya aku tak ingin menujukan apa yang aku rasa pada Helmi, sebab aku tahu Helmi tidak menyukaiku.

Ica , Mila, dan Marwah ada di kamarku sambil memperhatikan aku dan Helmi.

“Ca mabar yu!” Ujar Helmi kepada Ica yang sejak tadi sibuk ngemil kacang bawang yang ada di toples.

“Gak ah, kamu bukan tandinganku. Gak mau! Ha ha ha,’ jawab Ica sambil tertawa.

“Namanya juga belajar,” jawab Helmi kemudian.

“Malu aku, baru turun udah mati. Gimana kalau turnamen coba?” tanya Ica dengan nada meledek.

“Iya kan namanya juga belajar Iiica,” jawab Helmi lagi.

“Ah aku ga bisa.”

Entah kenapa menyimak dialog mereka yang begitu akrab ada semacam rasa yang menurutku ini adalah rasa cemburu. Ya, aku merasa cemburu. Bahkan aku merasa bahwa Helmi begitu bersemangat ingin datang ke kostan karena tahu ada Ica di sini.

“Fia!”

Suara Helmi mengagetkanku.

“Iya, kenapa?” jawabku dengan nada tinggi.

“Kamu juga main game online coba, seru deh!”

“Gak ah, hatiku gak sampai sana.”

“Kalau kamu mau sama aku coba deh main game online juga. Biar kita mabar nanti”

“Gak tau ah, pokoknya ingatanku gak sampai ke game online.”

Memang di antara aku, Marwah, Ica, dan Mila, hanya aku dan Marwah yang tidak mengerti dan tak berminat sedikitpun terhadap game online. Sementara Helmi, Mila, dan Ica nampaknya rajin main bareng, Mila juga sering menyarankan aku untuk ikut main, bahkan mendukung setiap ucapan Helmi padaku.

Sudah beberapa kali memang Helmi menyarankanku agar belajar game online.

“Kalau mau sama aku kamu harus main game juga biar seru!” Beberapa kali juga kalimat itu dikatakannya. Seolah dia tahu apa yang ada di hati dan kepalaku, kalau aku memang tertarik padanya.

Kalimat itu terngiang ngiang di kepalaku mencari-cari apa artinya.

Kalau aku dan Helmi berada di tengah teman-teman aku tak bisa berbohong meski sudah berusaha menutupi. Awalnya kami bersahabat tapi aku yang menodainya dengan rasa yang lebih dari teman. Namun di dalam percakapan whatsapp aku dan Helmi saling terbuka, dan aku suka itu. Helmi banyak bercerita mengenai kehidupannya begitupun aku, kita sering berbagi pengalaman dan berbagi cerita.

Di kosant, aku dan Marwah hanya tiduran dan sedikit bercanda. Sementara Mila, Ica, dan Helmi main bareng. Mereka terlihat asyik dengan perannya masing masing dengan lagak layaknya prajurit yang memiliki semangat ingin melawan penjajah. Mereka sepertinya telah terobsesi. Aku dan Marwah hanya bisa menggeleng gelengkan kepala melihat tingkah mereka yang sangat terfokus pada ponsel masing masing.

Tiba tiba Helmi pamit pulang dengan alasan ngantuk dan ingin tidur di kosantnya.

“Hai semua, aku pulang nih, lama-lama kok ngantuk ya” ucap Helmi

“Lho, pulang? Ngapain pulang? Masih siang ih! Lagian Fia masih kangen taauuuu,” canda Marwah.

“Iya ih kamu gak kasihan apa? Kamu kesini cuma buat main game? Bukan main sengaja buat ketemu Fia?” sambung Mila. Matanya melirik ke arahku dengan jail.

“Ah kalian apa sih?” kata Helmi dengan wajah bersemu merah.

Aku mengantar Helmi sampai ke depan kosant.

 “Fi, aku pulang dulu ya, kamu mandi sana, bau ih!” ledek Helmi mengesalkan tetapi tetap manis.

“Apaan si Hel? Iya sana ah pulang cepet!” jawabku sambil manyun.

“Awas lho mandi yang bener!”

“Iya Heeeeel, iyaa.”

Helmi memacu motornya dan melaju kencang. Meninggalkan aku dan bayang wajah manisnya. Giginya yang gingsul malah membuat wajahnya mudah diingat dan beda dengan yang lain.

Setelah Helmi pulang, teman teman yang lain juga pulang. Aku membereskan kamar dan rebahan di tempat tidur. Tanpa sadar, aku hampir terlelap tapi ponselku berbunyi lagi dengan notifikasi khusus dari Helmi.

“Fia, mandi!”

“Iya Heeel, kok kamu cerewet ya?”

“Aku tahu kamu belum mandi kan?”

“Iya, untung kamu ngingetin, aku hampir aja ketiduran.”

“Tuh kan, cepet kamu mandi!”

“Hel, maaf ya.”

“kenapa emang?.”

“Kok aku nyaman ya sama kamu?”

“Maaf ya Fi kamu jangan berharap terlalu jauh dulu.”

“Iya Hel, aku cuma bilang kok. Maaf ya, aku ceroboh. Hus ah jangan dipikirin.”

“Iya Fi, udah, mandi gih bau taaauuu.”

“Iya, Hel ini mau.”

Air Ciamis rasanya sangat dingin hari ini, gak sanggup aku menyentuhnya, lagipula malasnya minta ampun. Helmi sudah tahu kalau aku susah mandi dan bahkan jarang mandi. Makannya dia rajin mengingatku untuk mandi.

Malam ini aku bosan sekali, tidak ada kegiatan berarti malam ini, bukannya gak ada tugas atau pekerjaan yang harus dikerjakan. Namun malam ini aku sangat malas memulai sesuatu bahkan tugas yang menumpuk pun entah harus dimulai dari mana, yang jelas di pikiranku saat ini hanya ada Helmi, Helmi, Helmi. Ya tuhaaaan maafkan aku yang seceroboh ini menaruh hati. Sedari tadi aku mendengarkan lagu yang berjudul “Pupus” lagu ini sangat menggambarkan rasaku saat ini.

Mendengarkan musik sambil bernyanyi sendiri adalah kepuasan bagiku, tak peduli tetangga kotsan mau bicara apa. Yang jelas aku sedang merasakan suasana hati yang campur aduk malam ini. Ada bahagianya sebab aku tak bisa menutupi rasaku pada Helmi. Akan tetapi di sisi lain aku tahu Helmi hanya menganggapku teman.

 Tiba tiba..

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam, sebentar.”

 “Fiaaaaaaa buka pintunya dong.”

 “Ih, siapa sih malam malam begini.”

 “Fiiiii, Fiiiiiia, Fiiii.”

 (aku membuka pintu)

“Helmi?, ngapain kamu kesini?, kalo mau nanyain tugas maaf ya aku lagi males ini.”

“Ih kegeeran banget sih, lagian jadi cewe gak usah sensian gitu bisa gak sih?”

“Ya udah cepetan jawab, mau apa kamu kesini?”

“Tiap ketemu aku memang ya kamu gak tenang gitu kenapa sih?”

“Helmiiiiiii, jangan nguji kesabaranku deh,”

“Hahahaha, lucu deh kamu, iya iya maaf, ginii.”

“Cepet ngomong!”

“Ampun , ampun, nih aku kesini mau ngajak kamu beli martabak, mau ikut gak?”

“Hah, kemana?”

“Ke kamar mandi kampus.”

“Ah serius Helmiiii.”

“Arrggh, ya ke tukang martabak laaaah kemana lagi, ke pameran depan tuh.”

“Iyaaa, iyaaa, aku ikut.”

“Nah gitu dong, kan gak sia-sia aku kesini.”

“Kamu sengaja jemput aku?”

“Iya, emang kenapa? gak boleh?”

“Lho, kok kamu yang sewot?”

“Kan?, apa kataku? Kalau lawan bicara yang bawaannya ngegas tuh gak enak.”

“Iyaaaa, iya maaf, aku salah, aku ambil jaket dulu ya.”

“Sana cepet, aku tunggu di depan ya, awas kosant tu dikunci pintunya, bawa kuncinya.”

“Iyaaaa Hel, ih cerewet banget sih.”

Setelah aku mengunci pintu dan naik motor Helmi, aku jadi gugup. Sulit bicara, apalagi disepanjang perjalanan Helmi terus bertanya padaku. Membahas yang aku rasa tak perlu dibahas. Aduh aku malunya minta ampun ini, setelah bicara dengan Helmi tadi aku jadi sadar ternyata selama ini aku menutupi rasaku dengan cara yang kurang baik. Aku sering membentak Helmi tanpa sebab. Banyak marah marahnya, banyak sensinya. Habis Helmi sering membuatku kesal sih, sepanjang sejarah aku baru punya temen kaya dia. Usilnya gak nahan, pasti sama dia susah bedain mana serius mana bercanda, makannya sekarang aku duduk di belakang Helmi dengan boncengan seperti ini pun aku masih bingung dia sedang bercanda atau gimana ini, ah bingung memang.

Sesampainya aku di alun alun Ciamis, di sana ada penjual martabak yang memang lumayan ramai. Aku duduk mengantri sambil makan permen yang aku bawa di kantong jaketku. Helmi duduk di sampingku sambil minum air yang dibelinya barusan dari pedagang asongan.

“Fia.”

“Iya.”

“Aku boleh jujur gak sama kamu?”

“Kenapa? aku jelek? gendut? biasanya itu kan kejujuranmu?”

“Bukan ah, ha ha ha ha ha ha bahkan lebih dari itu.”

“Apa lagi?”

“Fi, kita kan udah lama nih musuhan. Kok agak bosen ya. Ha ha.”

“Ya terus?”

“Aku jujur nih sekarang sama kamu, ternyata lelucon kita, pertengkaran kita.”

“Ah lama.”

“Aaaaaah Fiiia. Selama ini aku nyaman sama kamu, aku suka sama kamu.”

“Apa? gak salah denger aku?”

“Sebenernya aku selama ini sedang meyakinkan diri, ini bener gak ya?”

“Helmiii.”

“Maaf kalau aku salah ya, persahabatan kita jadi seperti ini.”

“Gimana ya?”

“Maaf ya Fi sekali lagi.”

“Hel, sebenarnya sejak lama aku juga menyukaimu, aku hanya menutupi semuanya.”

“Ah iya gitu? Masa? Keliatan sih, aku bikin kamu klepek klepek ya? ha ha ha.”

“Hel, kamu serius gak sih? Kali ini aku gak main-main nih.”

“Ah, kamu juga suka sama aku Fi? Serius?”

“Jujur Hel, aku selama ini sembunyi, nungguin kamu, sebab aku lihat kamu beda.”

“Terima kasih ya Fi atas sabarnya kamu selama ini sama aku.”

“Iya Hel, aku juga Terima kasih sama kamu, semoga ucapanmu tadi bisa terjaga.”

“Fi, aku ada disini, gak kemana mana, gak akan berubah,buat kamu.”

“Serius nih, gak ngeprank ya?”

“Iya komandan Fia!, kali ini aku serius! Serius dikali serratus! Ha ha ha ha ha ha ha.”

“Tuh kan ketawa lagi, Helmiiiii.”

“Bercanda sayaang.”

Martabak pesanan kami sudah selesai. Helmi memberikan uang pada penjualnya. Langit malam ini rasanya cerah sekali. Pecah sudah isi hatiku selama ini, aku tak menyangka ternyata Helmi punya rasa yang sama denganku selama ini.. Aku berterima kasih pada dunia, karena ia telah mempertemukan aku dengan seseorang yang senyumnya manis dan humoris bernama Helmi.

Helmi mengajakku untuk menikmati martabak di taman sambil ngobrol lebih luas dari ulasan tadi. Malam ini nampak sekali tawa Helmi lebih lepas. Senyumnya lebih lebar, bicaranya semakin tenang, dan nadanya berdialog semakin santai. Berbeda dengan tadi, kemarin, kemarin lusa, dan dulu, sebelum dia tahu kalau aku punya rasa yang sama. Dia kaku, bercandanya seperti menjaga perasaan, tatapannya tak sedalam sekarang, iya, tapi itu dulu, sekarang dia bahagia, sama sepertiku.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *