Keberangkatan kami ke Yogyakarta, kali ini, bukan sekadar penelusuran geografi, melainkan ziarah literasi. Kami meluncur dari Jakarta dengan kenyamanan tak terperi dalam kereta Argo Semeru Compartment Suite Class, menuju kota yang menyimpan janji sejarah dan sastra. Tujuan utama adalah menghadiri perayaan seabad Pramoedya Ananta Toer, sebuah misi yang menautkan semangat kami pada narasi kebangsaan. Setelah enam jam perjalanan, kami disambut Stasiun Tugu yang unik, dengan ukiran motif batik yang menghangatkan sambutan “Sugeng rawuh ing Yogyakarta”.
Yogyakarta segera terasa sebagai sebuah naskah kuno yang hidup.
Setelah menenangkan diri di Green House Boutique Hotel, sebuah penginapan yang rimbun bak hutan tropis dengan sentuhan industrial minimalis, kami mulai menjejakkan kaki di jantung kota. Titik Nol Kilometer adalah titik gravitasi yang kami sasar. Titik ini bukan sekadar persimpangan jalan—Jalan K.H. Ahmad Dahlan, Jalan Margomulyo, Jalan Penembahan Senopati, dan Jalan Pangurakan—melainkan pusat sumbu imajiner yang sakral, yang merajut Gunung Merapi, Keraton Yogyakarta, dan Laut Selatan dalam satu tarikan napas kosmologis.
Dari sana, kami menyusuri Jalan Malioboro, ikon yang menawarkan denyut nadi Jawa yang abadi. Di tengah laju modernitas, Malioboro tetap menjadi cerminan budaya Jawa yang hidup, di mana pasar tradisional berdampingan dengan pertunjukan seni. Sambil mengenang betapa berharganya waktu luang yang kami curi dari hiruk pikuk acara Pramoedya, kami memutuskan beralih dari keriuhan Malioboro menuju keheningan selatan.
Pengalaman otentik membawa kami menaiki becak—yang tak terduga kini telah bermotor. Laju kendaraan tradisional yang dimodifikasi ini membawa kami ke Alun-Alun Kidul, yang juga dikenal sebagai Alun-Alun Selatan atau Alun-Alun Pengkeran. Tempat ini, yang didirikan oleh Sri Sultan Hameng Kuwono I (1755–1792), menyimpan ingatan akan fungsi militernya sebagai tempat latihan para prajurit keraton. Namun, malam itu, sejarah berbalut keriangan. Kami menyantap jajanan seperti leker dan sosis bakar, sebelum akhirnya mewujudkan hasrat lama: menaiki odong-odong penuh lampu, kendaraan kayu bertenaga kaki yang berputar mengelilingi alun-alun, sebuah kontras manis antara fungsi militer masa lalu dan hiburan rakyat masa kini.
Jika Titik Nol adalah jantung, maka candi-candi di timur adalah ingatannya. Secara mendadak, kami memutuskan untuk mengunjungi Candi Prambanan, yang hanya berjarak sekitar 30 menit dari pusat kota. Di sana, kami menyaksikan reruntuhan yang monumental, kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia. Dibangun sekitar tahun 850 Masehi oleh Rakai Pikatan, kompleks ini awalnya bernama Siwagra—Rumah Siwa—dipersembahkan untuk Trimurti.
Prambanan tidak hanya memamerkan keagungan Hindu; ia adalah monumen rekonsiliasi sejarah. Tak jauh dari reruntuhan utama, kami menemukan Candi Lumbung, sebuah struktur bercorak Buddha dengan atap berbentuk stupa, peninggalan Mataram Kuno. Lebih jauh lagi, kami menjelajah Keraton Ratu Boko yang dibangun oleh Wangsa Syailendra yang beragama Buddha pada abad ke-8, namun kemudian diambil alih oleh raja-raja Mataram Hindu, menciptakan perpaduan pengaruh yang unik. Reruntuhan agung ini juga menyimpan lakon perpecahan politik; sejak 1755, reruntuhan candi dan Sungai Opak di dekatnya berfungsi sebagai pembatas wilayah antara Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.
Perjalanan kami, yang berawal dari literatur, kian mendalam ketika tanpa rencana kami menjejakkan kaki di Museum Benteng Vredeburg. Benteng yang berdiri sejak 1760 ini menjadi saksi bisu era penjajahan asing. Di ruang-ruang diorama yang kini telah direvitalisasi dengan kreatif, kami menelusuri kisah pahit perjuangan bangsa untuk mempertahankan kedaulatan, termasuk kisah tentang Pangeran Diponegoro.
Di akhir perjalanan, kami kembali ke Tugu, menepi di Angkringan Jos Kangjo. Di bawah langit senja yang dramatis, kami menyeruput kopi jos, kopi yang diseduh dengan arang merah membara. Secangkir kopi ini terasa seperti penutup yang sempurna, mewakili kehangatan dan keunikan budaya lokal.
Yogyakarta, dalam sela-sela waktu senggang dari acara peringatan Pramoedya, telah menunjukkan dirinya bukan sekadar kota wisata. Ia adalah palimpsest: lapisan demi lapisan sejarah Keraton yang sakral, arsitektur candi yang mencampur Hindu dan Buddha, serta benteng yang menyimpan memori perjuangan melawan tirani. Kami pulang membawa bukan hanya oleh-oleh, tetapi sebuah pemahaman bahwa untuk membaca Indonesia, kita harus menelusuri setiap aksara yang terukir di atas abu sejarahnya.
