Rasanya setelah dewasa, kehidupan memang butuh kegiatan dan agenda yang terstruktur. Bukan hanya untuk mengembangkan diri dan mencari uang untuk hidup. Ternyata beraktivitas juga sangat berpengaruh pada kehidupan psikologi seseorang.
Contohnya saya, sebelum membuat daftar pekerjaan setiap hari rasanya aktivitas pun dilakukan semengalirnya saja. Berbeda dengan sekarang yang menuliskan beberapa kegiatan utama, atau memo yang menulis kutipan yang mengingatkan sesuatu, tentang apa yang harus dilakukan hari ini apa saja. Saya rasakan betul perbedaannya, pikiran yang dibiarkan kosong ternyata membuat isi kepala dan hati tak karuan.
Kekosongan yang saya punya ternyata selalu terisi ingatan tentang banyaknya kesedihan dan ratapan tentang hidup saya yang rasanya seperti sakit sendiri. Padahal jika melihat pada kehidupan orang lain, mungkin saja banyak yang lebih menderita dari saya. Beberapa kali hela nafas saya sesak karena beberapa malam pula tangis saya pecah dan menyesakkan dada. Memandang pas foto mama saat mama bekerja dulu, sempat disimpan rapi di album polaroid.
Potret mama waktu remaja, ngajar, dan gambar-gambar sewaktu dulu beraktivitas dan sehat. Setiap lembarnya selalu mengundang air mata yang tak tertahankan. Menangis memang berat, tapi setelahnya saya merasa lega sekali. Keluhan yang beragam saat menatap foto mama sering muncul begitu saja.
Banyak hal yang biasanya saya ceritakan, mulai dari caranya menjadi perempuan. Ilmu tentang menempatkan diri di keluarga dan di masyarakat, cara berorganisasi, cara berjualan, dan banyak lagi hal lainnya. Bahkan hal sepele seperti melipat pakaian, membereskan rumah, memasak, dan cara berpakaian. Semuanya seperti sesuatu yang berat, karena ternyata ilmu-ilmu dasarnya telat dipelajari. Hidup 11 tahun bersama mama ternyata itu tidak cukup untuk saya memahami bagaimana cara mama bekerja, membagi waktu, mengutamakan dan memprioritaskan ayah, memasak untuk keluarga dan memasak untuk jualan.

Mengatur waktu dan menata diri untuk mempersiapkan kesehariannya menjadi guru pun selalu menjadi hal yang mengagumkan bagi saya sampai hari ini. Sebab ternyata tidak semuanya bisa saya terapkan pada diri sendiri begitu saja. Ternyata saya berbeda dengan ibu, saya belum bisa sekuat ibu yang ternyata bisa jadi segalanya.
Kali ini saya belajar untuk berjanji pada diri sendiri untuk lebih menata ulang kegiatan, menata ulang diri, mental, pemikiran, dan pola asuh pada anak. Mengasuh anak menjadi hal penting untuk ketenangan saya sebagai ibu dan perempuan. Hal sederhana namun berpengaruh ini saya temukan pada saat usia saya genap 26 tahun. Akan berbeda situasinya ketika saya dulu memutuskan menunda pernikahan tempo hari. Karena jujur, sedikit banyak ternyata pernikahan bagi saya adalah satu langkah yang mendewasakan.
Mempelajari cara menjadi perempuan, istri dan ibu secara bersamaan. Memahami emosi dan mengandalikan diri, kontrol empati dihadapan masyarakat, dan banyak lagi hal lain yang baru saya pahami setelah menikah, berkeluarga dan bermasyarakat. Mengingatkan, bahwa peran mama dulu sangat besar ternyata di hidup kami. Ada kalimat yang sangat membekas dan menjadi sihir serius bagi saya.
“Menikah adalah keputusan politik paling besar dalam kehidupan manusia.”
Sejalan dengan kalimat para Lovecoach di akun resmi sosial media mereka, banyak yang menyebutkan kalau pernikahan itu tak boleh tergesa-gesa dan terburu-buru sebab hidup bukan kompetisi. Menikah itu tak masalah jika telat dan butuh waktu sebab manusia butuh persiapan yang matang. Sebab pernikahan juga tak akan berjalan baik jika orang yang dipilih adalah orang yang salah. Pernikahan akan berimbas pada cara seseorang berinteraksi dengan masyarakat sekitar, cara hidup, pola pikir, taraf kesejahteraan, dan masih banyak lagi faktor yang akan berpengaruh dalam kehidupan pernikahan.
Apalagi setelah memiliki anak, saya sempat berpikir sangat keras. Boleh jadi saya lebih nakal daripada anak saya sekarang, saya mungkin lebih merepotkan mama, lebih dari ini. Saat sekarang menjadi ibu, ternyata saya masih sangat membutuhkan mama. Mama luar biasa, dan saya sulit menirunya. Belajar seperti mama, menata diri dan menempatkan diri sesuai dengan porsinya waktu itu ternyata sangat sulit.
Setelah dijalani menjadi dewasa sangat sulit, dan yang bisa saya lakukan sekarang adalah mengevaluasi diri. Bagaimana cara saya menjadi perempuan baik, menjadi anak mama yang berusaha menjadi anak mama seutuhnya. Saya menyadari bahwa diriku tidak perlu seperti mama, saya menyadari bahwa terbaik versi saya tidak selalu seperti mama. Saya hanya belajar dan lebih baik daripada hari kemarin, hanya menjadi seseorang yang harus belajar dari diri sendiri di waktu lalu, bukan belajar dari kepribadian mama.
Kepribadian yang mungkin hanya saya ketahui sesingkat usia saya waktu itu. Maafkan saya yang tak sempurna ini, maafkan saya yang mungkin sejauh ini kurang banyak perbuatan baik untuk mama. Perbuatan yang selama ini mungkin masih ada sifat jelek dan negatifnya. Satu hal yang sering ingat tentang mama adalah sisa-sisa nasehat orang lain yang melihat dan mengasihiku. Mereka selalu memberikan wejangan, “Sabar dan doakan saja mamamu” Katanya.
Tinggal ikhlas dan doakan saja, katanya. Mereka yang bilang seperti itu nampaknya tak mengerti, bagaimana rasanya kehilangan yang mendalam. Bagaimana rasanya menjadi saya yang sangat butuh mama. Saya rasanya tak butuh orang-orang yang mengasihani dan berempati, karena sebenarnya hal itu sudah tak berguna. Bahkan tidak ada obat dan wejangan yang bisa menggantikan posisi mama di dunia ini. Tangis saya akan reda di hadapan orang lain, setelah mereka mengusap punggung dan menyeka air mata saya. Mereka tak sadar apa yang terjadi di waktu-waktu setelahnya, selepas tidak ada mereka dan setelah lepas dari wejangannya.
Saat saya sendiri dan kembali mengingat mama. Akan kembali mengingat mama yang cantik dan baik. Potret mama yang sederhana selalu menjadi biang ratapan dan kesedihan yang mendalam. Tapi, saya sedikitpun tak pernah menyalahkan hal itu. Karena saya sendiri tidak bisa menutup diri dari kerinduan yang membara. Saya selalu dihinggapi perasaan itu setiap hari. Kira setelah dewasa rasa rindu itu akan semakin mengecil, tapi tidak. Bahkan setelah dewasa ternyata saya semakin membutuhkan mama. Semakin ingin tahu arah hidup semakin ingin bertanya kenapa saya begini, semakin ingin bertanya kenapa jalan hidup saya menjadi seperti ini.
Saya sangat butuh tuntunan mama, untuk memilih mana yang baik mana yang buruk ternyata saya butuh mama untuk mempertimbangkannya. Tuhan tahu yang terbaik bagi kita. Mungkin saja Tuhan percaya bahwa saya akan lebih dewasa dengan cara seperti ini. Tuhan ingin saya lebih mengerti bagaimana jika hidup tanpa mama, saya lebih dewasa dan lebih menata diri. Saya menjadi lebih menyadari betapa berharganya waktu bersama orang-orang yang dicintai.
