Gerakan Ayah mengambil rapor menjadi pro kontra di masyarakat. Ada yang keberatan karena merasa peran ayah tidak begitu perlu untuk pergi ke sekolah. Apalagi saat beralasan bahwa ayah adalah tulang punggung keluarga dan ia bekerja di luar kota, hingga tak sempat pulang dan pergi ke sekolah anak.
Gerakan ini mendorong para Ayah melibatkan diri dan berperan dalam pengasuhan anak. Bukan hanya mengambil rapor saja, imbauan pemerintah harusnya membuat ayah benar-benar terlibat di dalam pendidikan anak. Sebab mendidik anak adalah kolaborasi orang tua, bukan hanya tugas ibu saja.
Mengambil rapor adalah salah satu kegiatan yang berisi evaluasi bagaimana dampak pendidikan dasar anak di rumah dan imbasnya pada cara belajar dan berinteraksi di sekolah. Lebih jauh dari itu, rapor berisi tentang buah kedisiplinan, kehidupan sosial, dan evaluasi anak dari berbagai hal. Contoh kecilnya adalah anak yang mampu beriteraksi dan memiliki pola disiplin, maka anak akan terlihat minat dan bakatnya di sekolah.
Sekolah adalah wadah untuk meraih pendidikan yang lebih jauh, tinggi, dan luas. Karena pada dasarnya anak-anak di didik oleh orang tua secara mental dan spiritual. Maka secara sifat, sikap, dan cara menghargai orang lain ditunjukan anak secara alami di lingkungan sekolah.
Menariknya, pengambilan rapor di sekolah jika dilakukan oleh para ayah akan berbeda sudut pandang dan evaluasinya. Banyak ayah yang tidak akan banyak berkomentar yang penting anaknya aman, tidak nakal dan tidak pernah membuat onar. Ayah biasanya tidak terlalu ambil pusing mengenai nilai-nilai anak yang diraih selama ia bersekolah.
Ayah cenderung melihat hasil dari cara anak belajar selama ini. Beberapa Ayah mungkin minim apresiasi terhadap anak dan tidak begitu antusias mengenai bagaimana pencapaian anak di sekolah. Berbeda dengan ibu-ibu yang lebih banyak menanyai anak soal bagaimana prosesnya mencapai sesuatu.
Bagaimana kehidupan bersama teman-temannya, bagaimana cara belajarnya, menyenangkan atau tidak. Tidak jarang banyak ibu-ibu wali murid yang bersahabat dengan guru, bahkan teman anak-anaknya. Anak biasanya akan ditanyai dari cara hingga hasil belajar anak selama ini seperti apa.
Ibu akan lebih antusias mengambil rapor, karena pola pendidikan yang pertama di rumah berasal dari Ibunya. Jadi ibu akan merasa antusias karena pendidikan dasar yang didapat di rumah sejak bayi, adalah pola yang ditentukan olah dirinya. Dari mulai pendidikan karakter, dan segala rupa yang menjadi modal untuk anak belajar.
Program ini diharapkan agar ayah dan ibu selalu kompak memberikan pendidikan bagi anak. Ayah tidak hanya menginginkan output saja, tapi ayah juga diharapkan terlibat dalam proses pendidikan anak. Jadi karena sejak dahulu pengambilan rapor terbiasa dibebankan pada ibu dengan alasan bahwa pendidikan dan pengasuhan anak masuk dalam pekerjaan domestik.
Akhirnya, ayah yang mengambil rapot sekarang adalah mereka yang canggung, bingung, dan berusaha mengenal lingkungan anak di sekolah. Kedepannya diharapkan Ayah pun berperan dalam pengasuhan dan pendidikan, agar pengambilan rapor bukan hanya evaluasi pendidikan dari Ibu di rumah. Tapi pengambilan rapor di sini harus menjadi agenda tahunan yang berisi evaluasi output dari pendidik dasar yang kompak yakni ibu dan ayah di rumah.
