10 Desember 2025 menjadi hari yang akan selalu kami ingat. Bukan karena kami membawa pulang piala, bukan pula karena nama sekolah kami disebut sebagai juara utama. Namun karena hari itu kami pulang dengan membawa sesuatu yang jauh lebih berharga: pengalaman, pelajaran, kebersamaan, dan rasa bangga.
Sejak pagi buta, tim dari MTs Ibnu Sina Soreang sudah bersiap. Seragam rapi dikenakan dengan perasaan bercampur antara gugup dan semangat. Tas kecil yang kami bawa terasa lebih berat dari biasanya. Bukan karena isinya, tetapi karena harapan yang kami selipkan di dalamnya.
Kami berangkat menuju Gedung Perpustakaan Kabupaten Bandung, tempat berlangsungnya Lomba Cerdas Cermat Literasi yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan Kabupaten Bandung. Dari kejauhan, gedung itu tampak lebih hidup dari biasanya. Spanduk lomba terpasang di depan pintu, peserta berdatangan dari berbagai sekolah, memenuhi halaman dan ruang tunggu dengan obrolan, tawa kecil, dan ekspresi penuh antusias.
Kami pun bergabung dengan puluhan peserta dari SMP dan MTs se-Kabupaten Bandung. Rasanya seperti memasuki dunia baru—satu tempat yang dipenuhi mimpi, semangat, dan harapan anak-anak seusia kami yang ingin tampil dan belajar.
Bagi kami, lomba ini bukan sekadar adu cepat menjawab soal. Ia adalah pertemuan dengan dunia pengetahuan yang lebih luas. Dalam sambutannya, Kepala Dinas Perpustakaan Kabupaten Bandung menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mengukur minat dan kegemaran membaca anak-anak, sekaligus menumbuhkan semangat literasi di tengah derasnya arus digital.
Ucapan itu membuat kami tersadar bahwa lomba ini bukan hanya tentang nilai dan peringkat, melainkan tentang karakter: tentang kebiasaan membaca, keberanian berpikir, dan kemauan belajar.
Di era gawai dan media sosial seperti sekarang, membaca sering kalah menarik dibandingkan layar ponsel. Buku dianggap membosankan, padahal di dalamnya tersimpan dunia seluas samudera. Lomba ini seakan mengingatkan kami bahwa membuka buku berarti membuka jalan menuju masa depan.
Saat lomba dimulai, suasana berubah menjadi penuh konsentrasi. Setiap babak menguji bukan hanya pengetahuan, tetapi juga kekompakan tim. Kami harus berpikir cepat, berdiskusi singkat, dan mengambil keputusan dalam hitungan detik.
Ada soal yang terasa ringan, tetapi ada pula yang membuat kami terpaku. Ada pertanyaan yang kami jawab dengan yakin, dan ada juga yang membuat kami saling pandang dengan raut ragu. Di saat-saat seperti itu, kami belajar bahwa kepercayaan antar anggota tim menjadi sangat penting. Tidak ada ego. Tidak ada saling menyalahkan. Yang ada hanyalah usaha bersama.
Ada saat kami menjawab benar dan saling tersenyum lega. Namun ada juga momen ketika jawaban meleset dan kami menarik napas panjang. Tapi kami tidak larut dalam kecewa. Kami bertahan, kami bangkit, dan kami terus melangkah. Kami datang bukan semata-mata untuk menang. Kami datang untuk belajar.
Hari itu terasa semakin istimewa ketika nama MTs Ibnu Sina Soreang disebut sebagai salah satu finalis lomba. Rasa syukur, bahagia, dan haru bercampur menjadi satu. Kami sadar, berjalan sejauh ini bukan perkara mudah. Meskipun kami tidak berhasil melaju ke babak grand final, kami tidak merasa gagal. Menjadi finalis sudah merupakan sebuah prestasi yang patut disyukuri. Ia menjadi bukti bahwa usaha tidak pernah sia-sia.
Di akhir acara, panitia mengumumkan para pemenang lomba.
Juara pertama diraih oleh SMPN Margahayu.
Juara kedua oleh SMPN Soreang I.
Juara ketiga oleh SMPIT Qordofa.
Dan juara keempat oleh MTs Al-Falah (Kopo).
Tepuk tangan memenuhi ruangan. Kami menyaksikan dengan kagum bagaimana mereka berdiri sebagai pemenang. Mereka bukan hanya pintar, tetapi juga tekun, disiplin, dan penuh semangat.
Kami memberi tepuk tangan paling tulus. Karena kami tahu, kemenangan tidak lahir begitu saja. Ia lahir dari latihan, kegigihan, dan ketekunan yang panjang. Kami mungkin tidak naik podium. Tapi hati kami tetap penuh. Mungkin akan ada yang bertanya, “Apakah tidak kecewa?” Jawabannya, tentu ada sedikit rasa sedih. Namun jauh lebih besar rasa bangga. Kami bangga karena telah berani mencoba.
Kami bangga karena telah berusaha semaksimal mungkin. Kami bangga karena tidak menyerah.
Di perjalanan pulang, suasana terasa lebih hangat. Kami bercerita ulang tentang soal yang membuat bingung, jawaban yang mengejutkan, dan tingkah kawan yang mengundang tawa. Semua menjadi kenangan yang tak ternilai.
Kami tidak membawa pulang piala. Tetapi kami membawa cerita.
Gedung Perpustakaan Kabupaten Bandung hari itu bukan hanya sekadar tempat lomba. Ia menjelma menjadi ruang tumbuh. Rak-rak buku yang rapi, suasana tenang, dan sudut-sudut baca yang nyaman memberi kesan mendalam bagi kami. Perpustakaan tidak lagi terasa kaku. Ia terasa ramah, hangat, dan penuh ilmu.
Kami pulang dengan niat baru: membaca lebih rajin, mengunjungi perpustakaan lebih sering, dan mencintai ilmu dengan cara yang lebih sederhana. Kami juga menyadari bahwa langkah kami tidak akan sejauh ini tanpa orang-orang di balik layar.Guru-guru yang sabar membimbing. Orang tua yang tak pernah lupa menyelipkan doa. Teman-teman yang selalu memberi semangat.
Terima kasih untuk semua yang percaya, bahkan ketika kami sendiri sempat ragu. Lomba ini telah usai, namun semangat kami justru tumbuh semakin kuat. Kami kini mengerti bahwa literasi bukan hanya tentang lomba. Ia adalah jalan panjang yang indah.
Membaca bukan beban, melainkan kebutuhan. Menulis bukan tugas, melainkan perasaan. Belajar bukan keterpaksaan, melainkan cahaya. Kami berjanji pada diri kami sendiri: kami ingin tetap bersama buku. Kami ingin menulis cerita kami sendiri. Kami ingin menjadi generasi yang berpikir, bukan sekadar mengikuti.
10 Desember 2025 menjadi hari ketika kami belajar menerima hasil dengan ikhlas. Hari ketika kami percaya bahwa usaha tak pernah sia-sia.
Hari ketika kami sadar bahwa kalah bukan berarti gagal. Kami mungkin belum berdiri di podium. Namun kami berdiri lebih tegak di dalam keyakinan.
Bahwa kami bisa belajar. Bahwa kami bisa tumbuh. Bahwa suatu hari, kemenangan itu akan datang—dengan cara yang lebih indah. Terima kasih, Lomba Cerdas Cermat Literasi Kabupaten Bandung. Terima kasih, buku-buku yang setia menemani. Terima kasih, pengalaman yang tak terlupakan. Dan untuk kami sendiri:
terima kasih telah berani bermimpi.
