Ruang perawatan itu dingin, jauh lebih dingin daripada udara malam di luar rumah sakit. Bau antiseptik yang tajam menusuk hidung, seolah mencoba mengusir setiap aroma kehidupan di dalamnya. Nurhayati duduk di tepi ranjang, bahunya yang dulu tegap kini tampak melorot, menyiratkan beban yang tak sanggup lagi ia pikul sendirian.
Saat aku melangkah masuk, ia menatapku. Tidak ada senyum, tidak ada sapaan ceria seperti di kedai kopi Garut belasan tahun lalu. Hanya ada tatapan kosong yang diselimuti keletihan yang luar biasa.
“Terima kasih sudah datang,” bisiknya, suaranya parau.
Aku tidak menjawab dengan kata-kata. Aku hanya mendekat, menarik kursi plastik yang kaku, dan duduk di sampingnya. Aku melihat tangannya yang terpasang selang infus; jemari yang dulu lincah menelusuri naskah-naskah sejarah, kini terlihat pucat dan tak berdaya. Rasa iba merayap di dadaku, sebuah emosi yang bercampur aduk antara haru, nostalgia, dan kepedihan yang sulit kujelaskan.
“Apa yang terjadi?” tanyaku akhirnya, dengan nada selembut yang aku bisa.
Nurhayati hanya menggeleng pelan. Ia tidak menceritakan detail diagnosanya, dan aku tidak mendesaknya. Di ruangan itu, keheningan justru menjadi bahasa yang paling jujur. Aku menyadari bahwa kadang-kadang, seseorang tidak memanggil kita untuk mendengar penjelasan panjang lebar tentang kemalangan mereka, melainkan hanya untuk memastikan bahwa mereka tidak sendirian saat dunia terasa sedang runtuh.
Aku teringat kembali pada kutipan Albert Camus: *“Ketika jiwa terlalu banyak menderita, ia akan mengembangkan selera terhadap kemalangan.”*
Melihat Nurhayati yang kini berada di titik terendahnya, aku bertanya-tanya apakah ia telah terjeba dalam selera itu—selera terhadap kemalangan yang membuatnya memilih untuk menghilang dan memutus diri dari dunia. Namun, saat kulihat matanya perlahan mulai berkaca-kaca, aku tahu bahwa ia bukan sedang menikmati penderitaan, melainkan sedang berjuang untuk tetap bertahan.
“Aku merasa seperti Sisyphus yang batunya sudah menggelinding jauh ke dasar jurang,” ucapnya tiba-tiba, suaranya pecah. “Dan aku tidak punya tenaga lagi untuk mendorongnya ke atas.”
Aku menatapnya lekat. Dalam kepucatan itu, ia masihlah Nurhayati yang sama—perempuan yang selalu membawa sastra dalam setiap tarikan napasnya. Bahkan di saat-saat paling menyakitkan, ia masih menggunakan metafora itu.
“Sisyphus tidak pernah benar-benar kalah,” kataku pelan, teringat pada esai yang pernah kami perdebatkan. “Ia menang bukan karena batunya sampai di puncak, tapi karena ia terus mencoba. Dan malam ini, mungkin aku adalah batu itu—atau mungkin, aku hanyalah orang yang kebetulan berdiri di sampingmu saat batumu terasa terlalu berat.”
Ia menatapku, dan untuk pertama kalinya malam itu, sebuah senyum tipis—sangat tipis—muncul di bibirnya. Senyum yang getir, namun menyimpan secercah cahaya yang tak terkalahkan.
*”Oh, cahaya! Inilah seruan semua tokoh drama kuno yang dihadapkan pada takdir mereka. Jalan keluar terakhir ini juga milik kita… Di tengah musim dingin, akhirnya aku menemukan bahwa di dalam diriku terdapat musim panas yang tak terkalahkan,”* bisikku, melafalkan kutipan Camus yang selalu menjadi peganganku.
Kami terdiam lagi. Di ruangan perawatan yang sepi itu, di bawah temaram lampu rumah sakit, aku merasa sebuah ikatan baru sedang terjalin. Bukan lagi ikatan intelektual yang penuh ambisi, melainkan ikatan kemanusiaan yang sederhana. Aku adalah tukang ojeg yang lelah, dan ia adalah seorang guru yang sedang sakit. Kami hanyalah dua manusia yang sedang berupaya untuk tidak patah di tengah dunia yang tak peduli.
Malam itu, aku tidak pulang. Aku tetap di sana, duduk di kursi plastik yang keras, menemaninya melewati malam yang panjang. Tanpa kata-kata cinta, tanpa janji masa depan, hanya ada keberadaan yang tulus. Dan bagi kami yang sudah berkali-kali dipukul oleh kenyataan, mungkin itulah bentuk cinta yang paling jujur: saling menjaga saat musim dingin sedang mencekam.
