Mengulang Permainan Masa Kecil: Suara “Pit Pit Pit” dari Bunga Kakacangan
Kami biasa menyebutnya bunga “kakacangan”. Mungkin di daerah Teman-teman namanya berbeda. Namun, bunga ini menyimpan kenangan masa kecil yang cukup berkesan bagi saya. Dulu bunga ini sering dijadikan mainan sederhana. Baru-baru ini saya mencoba memainkannya lagi. Saat dihisap, bunga tersebut bisa menghasilkan suara “pit… pit… pit…” menyerupai kicauan burung. Seru sekali rasanya. Apakah Teman-teman pernah mencobanya juga?
Mengenal Bunga Kakacangan
Sebelum membahas cara memainkannya, mari mengenali bunganya terlebih dahulu. Sekilas bentuknya mirip bunga telang, meskipun keduanya jelas berbeda. Bunga telang identik dengan warna biru terang atau ungu pekat, sedangkan bunga kakacangan memiliki warna merah muda keunguan. Sesekali saya juga pernah menemukan yang berwarna putih.
Tanaman bernama latin Centrosema pubescens ini biasanya tumbuh liar di area semak. Ia mampu hidup di tanah yang kurang subur. Pertumbuhannya merambat atau memanjat dengan batang lentur yang sedikit berbulu. Rambatannya dapat memanjang hingga beberapa meter, mengikuti tempat ia bertumpu, seperti tanaman lain, pagar, bambu, bahkan tiang listrik.
Daunnya terdiri dari tiga helai anak daun berbentuk oval hingga bulat telur. Permukaannya terasa agak kasar karena terdapat bulu-bulu halus.

Kembali Mencoba Permainan Lama
Minggu lalu saya menyempatkan diri berjalan kaki sekitar satu jam bersama suami mengelilingi desa. Sebenarnya bunga ini cukup sering saya lihat saat berjalan santai. Namun entah mengapa, hari itu saya tiba-tiba ingin kembali mengenang permainan masa kecil yang dulu begitu menyenangkan.
Saya pun berhenti sejenak di pinggir jalan dan memetik beberapa bunga dari semak, tentu setelah mendokumentasikannya terlebih dahulu.
Pelan-pelan saya mulai membuat mainan tersebut. Kelopak bunganya dibuka hingga menyisakan bagian yang menyerupai leher angsa. Setelah itu, tangkai putik berwarna hijau dikeluarkan dengan hati-hati. Tidak membutuhkan waktu lama sampai mainan sederhana itu siap digunakan.

Saat dihisap, terdengar suara “pit… pit… pit…” yang cukup nyaring. Rupanya bunyi itu menarik perhatian orang-orang di sekitar. Saya pun tersenyum sendiri ketika melihat beberapa orang menoleh, penasaran dari mana asal suara tersebut.
Kenangan Indah Bersama Mainan Tradisional
Masa kecil di kampung memang terasa begitu menyenangkan. Kami tidak membutuhkan banyak mainan modern untuk merasa bahagia. Cukup pergi ke kebun, mencari bunga kakacangan atau bunga Sentro, lalu memainkannya bersama teman-teman.
Biasanya kami saling berlomba menghasilkan suara paling keras dan paling bagus. Kuncinya ada pada ketelitian saat mengeluarkan putik hijau dari bagian “leher angsa” tadi. Jika berhasil, suara yang dihasilkan akan terdengar lebih nyaring.
Kenangan sederhana seperti ini ternyata sangat membekas hingga sekarang. Rasanya menyenangkan bisa mencoba kembali permainan lama tersebut, sekaligus memperkenalkannya kepada orang-orang terdekat agar tidak hilang begitu saja.

Mengenalkan kepada Generasi Sekarang
Saya sendiri sudah beberapa kali mencoba mengajarkan permainan ini kepada anak, keponakan, bahkan suami. Saya membimbing mereka membuatnya sendiri dan mencoba membunyikannya. Sayangnya, belum semuanya berhasil membuat mainan itu hingga bisa berbunyi.
Akhirnya, saya yang membuatkannya, sementara mereka tinggal meniup dan menikmati suara nyaringnya dengan penuh kegembiraan.
Saya berharap permainan tradisional seperti ini bisa kembali dikenalkan kepada lebih banyak anak-anak. Selain menyenangkan, mereka juga belajar memanfaatkan bahan alami di sekitar untuk bermain dan berkreasi sendiri.
Sayangnya, tanaman ini kini mulai jarang ditemukan. Kita harus mencarinya hingga ke area hijau yang masih tersisa. Karena itu, menurut saya tanaman ini juga perlu dibudidayakan, misalnya ditanam di halaman rumah sebagai tanaman hias, seperti halnya bunga telang.
Adakah yang tertarik mencoba permainan sederhana ini? Semoga cerita ini bermanfaat dan bisa menjadi pengingat akan indahnya permainan masa kecil dari alam.
