Ada masa ketika kita terlalu sibuk memikirkan apa yang akan terjadi esok, atau terlalu larut menyesali apa yang sudah lewat. Pikiran berlari ke depan, hati tertinggal di belakang. Akibatnya, kita kehilangan satu hal paling berharga: momen sekarang.
Sering kali kita merasa gagal karena cita-cita meleset, pekerjaan tidak sesuai harapan, atau orang lain tidak memberi respons seperti yang kita bayangkan. Namun, hidup memang tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan, dan di situlah pelajaran penting dimulai: menerima.
Kecemasan muncul ketika kita terlalu sibuk menata masa depan, sementara depresi datang saat kita terjebak pada masa lalu. Dua-duanya berakar pada ketidakmampuan untuk hadir di sini dan sekarang. Padahal, justru di momen ini kita bisa menemukan ketenangan.
Generasi milenial, misalnya, sering mencari pelarian lewat nostalgia. Jajanan 90-an, tayangan televisi masa kecil, musik Sheila on 7 atau Peterpan—semua itu menjadi semacam pengingat bahwa ada masa ketika hidup terasa lebih sederhana. Nostalgia memang menyenangkan, tapi ia juga bisa menjadi jebakan jika membuat kita enggan melangkah ke depan.
Ketenangan sebenarnya bisa ditemukan dalam hal-hal kecil. Menikmati udara sore, mendengar suara motor yang lalu-lalang, atau merasakan angin sepoi-sepoi. Hal-hal sederhana itu sering kali lebih menenangkan daripada obsesi pada masa depan atau penyesalan masa lalu.
Ada pula dimensi spiritual yang mengingatkan kita: Tuhan punya rencana lain, mungkin lebih baik dari yang kita bayangkan. Masa lalu sudah lewat, masa depan belum datang. Yang kita miliki hanyalah saat ini. Dan saat ini, jika kita mau, bisa menjadi ruang untuk bersyukur, untuk bernafas lebih dalam, untuk menerima dengan lapang dada.
Belajar hadir bukan berarti pasrah tanpa usaha. Ia justru mengajarkan kita untuk bekerja dengan tenang, melangkah dengan sadar, dan menerima hasil dengan ikhlas. Hidup bukan soal mengendalikan semua hal, melainkan soal bagaimana kita merawat diri di tengah ketidakpastian.
Mungkin itulah inti dari pelajaran sederhana ini: apapun yang terjadi, biarlah terjadi. Kita tidak bisa mengatur segalanya, tapi kita bisa memilih cara merespons. Dan dengan memilih untuk hadir, kita memberi ruang bagi diri sendiri untuk lebih damai, lebih jernih, lebih manusiawi.
Salam.
Cimahi menuju senja
____
Terima kasih sudah membaca. Temukan artikel menarik lainnya hanya di Ruang Pena
