8 Red Flag di Dunia Kerja yang Jarang Disadari dan Kiat Mengelola Emosi dari Psikolog

Red flag di dunia kerja

Ruangpena.id – Dalam karir seseorang terkadang ditemui periode red flag di dunia kerja yang toxic.

Ini wajar, karena lingkungan kerja sifatnya dinamis. Namun, untuk mengenali red flag yang toxic tersebut tak selalu mudah.

Bila terlambat mengenali red flag dalam lingkungan kerja, orang bahkan bisa merasa tersudutkan hingga kesehatan mental pun terganggu.

Dikutip Ruangpena.id dari artikel Forbes tertanggal 28 Mei 2021, terdapat 8 indikasi ‘bendera merah’ dalam lingkungan kerja yang jarang disadari.

Read More

Namun, sebelumnya, kita pahami terlebih dahulu arti dari istilah red flag atau bendera merah di atas.

Menurut kamus Merriam-Webster, bendera merah berarti sinyal atau tanda peringatan, atau berarti juga sesuatu yang mengindikasikan atau menarik perhatian pada suatu masalah, bahaya atau hal-hal di luar kebiasaan.

Sehingga, dalam lingkungan pekerjaan bisa berarti sesuatu yang mengindikasikan atau berpotensi mendatangkan masalah atau bahaya bagi seorang pekerja atau pekerjaannya.

Setelah memahami istilah ini, berikut adalah 8 indikasi bendera merah dalam lingkungan kerja yang jarang disadari.

1. Kurang Transparan

Kurangnya transparansi merupakan salah satu red flag terbesar dalam lingkungan kerja yang toxic.

Para pekerja perlu memahami gambaran tujuan perusahaan dan apa kontribusinya bagi tujuan tersebut.

Maka, apabila perusahaan kurang transparan, bisa memunculkan ketidakpercayaan, bahkan dapat membuat anggota tim merasa dirinya kurang penting.

2. Rekan Kerja yang Kurang Memotivasi

Selain komunikasi yang buruk atau tidak efektif, rendahnya kepercayaan dan respek satu sama lain, terhambatnya pertumbuhan kapasitas atau karir, dan perlakuan berbeda dari rekan kerja atau manajemen, masih ada bendera merah lain yang perlu disadari.

Rekan kerja yang semestinya turut menginspirasi seseorang untuk bekerja lebih baik, nyatanya tidak selalu bisa ditemui.

Ada kalanya terdapat rekan kerja yang membuatmu malah tidak termotivasi.

3. Kurang Menghargai Pekerjaan

Saat pekerja tidak mendapatkan penghargaan atas kinerjanya, hal itu bisa menghanguskan motivasinya.

Sesi review kinerja menjadi kesempatan yang baik bagi manajer dan pekerjanya untuk berkomunikasi, menilai dan memberikan penghargaan atas suatu pekerjaan.

Namun, apabila hal ini tidak dilakukan dengan baik atau dilakukan namun tidak berujung pada adanya penghargaan yang setimpal, maka hal itu bisa membuat pekerja merasa ‘tidak terikat’ dari lingkungan kerjanya.

4. Atasan Bersikap Buruk

Memiliki atasan yang buruk dalam bersikap membuat pekerjaan paling menyenangkan sekalipun akan terasa menyiksa.

5. Ketidakjelasan Arah Kerja

Manajer semestinya selalu dapat memberikan arah kerja yang jelas dalam suatu pekerjaan atau proyek.

Bila berulang kali menemui situasi yang justru sebaliknya dan diikuti respon yang tidak jelas dari atasan, maka itu jelas indikasi red flag.

6. Stabilitas Work-Life Balance Terganggu

Berikutnya, hal yang paling penting namun seringkali tidak disadari ialah terganggunya stabilitas work-life balance.

Jika seorang pekerja terus menerus dibutuhkan untuk selalu siap sedia, bahkan saat liburan, sakit, atau setelah usai jam kerja, mungkin ia perlu cek kembali berapa lama waktu yang dihabiskannya untuk pekerjaan itu.

Dalam jangka panjang, kondisi ini memicu burnout, yang bukan hanya buruk untuk kesehatan mental pekerja, begitu pun juga untuk perusahaan dan tingkat retensi pekerjanya.

7. Proyek atau Pekerjaan Tambahan (Scope Creep)

Esensinya, scope creep merupakan proses bertahap di mana manajemen, supervisor atau klien memberi seseorang pekerjaan tambahan yang dibutuhkan, atau bahkan permintaan yang sebenarnya tidak diperlukan, di luar tugasnya.

Misalnya, pada awalnya seseorang hanya berupa menangani tugas rekannya yang berhalangan hadir, akan tetapi dikarenakan ia dinilai capable atas tugas tambahan itu, selanjutnya ia terus diminta melakukannya.

8. Multitasking saat Meeting

Kebiasaan manajer atau bos melakukan multitasking saat rapat atau pembicaraan empat mata dapat menciptakan suasana toxic.

Kebiasaan ini dikatakan toxic sebab sebagian besar pemimpin tidak sadar bahwa multitasking ‘membunuh’ produktivitas.

Celakanya, para karyawan juga hanya dapat menerima kebiasaan itu sebagai cara pemimpinnya bekerja.

Kiat Kelola Stabilitas Emosi

Kedelapan bendera merah lingkungan kerja toxic di atas meski seringkali tidak disadari namun tetaplah berdampak pada kesehatan mental pekerja.

Terutama sekali dapat menyebabkan pekerja kesulitan mengelola stabilitas emosi mereka. Sehingga, dapat berdampak pada karir dan kehidupannya.

Menurut Psikolog Klinis dari Kalea, Kartika Rachmadi saat menjadi narasumber webinar Managing Emotional Stability at Workplace pada Selasa, 16 Mei 2023, emosi yang dirasakan orang itu menular.

Oleh karena itu, mengelola stabilitas emosi seharusnya dimulai dari para pemimpin.

Leader who regulate well, do well,” katanya.

Pemimpin yang dapat meregulasi emosinya dengan baik, akan menularkan hal yang sama kepada anggota timnya. Demikian juga bila sebaliknya.

Menurut Kartika, ada beberapa kiat untuk mengelola stabilitas emosi di lingkungan kerja.

1. Showing up

Harus diingat dengan baik, bahwa seseorang harus terlebih dulu menghargai semua emosi yang dirasakannya.

Apapun bentuknya, emosi merupakan suatu respon internal yang mengkomunikasikan dan mengingatkan orang untuk melindunginya.

Kiat pertama agar orang dapat menghadapi dan meregulasi emosi ialah showing up.

Maksudnya, sadar dengan emosi yang dirasakan dan tidak perlu mencari pelarian. Sadari bahwa emosi itu muncul secara spesifik hanya untuknya.

Misalnya, ketika di kantor. Orang bisa duduk dan ambil jeda yang cukup untuk menerima dan menyadari emosi yang dirasakannya.

2. Stepping up

Yang kedua, yaitu stepping up. Maknanya merasakan atau mendengarkan emosi yang dirasakan.

Namun, bila belum mampu melakukan ini, orang cukup untuk bisa showing up dulu.

3. Walking your Why

Berikutnya, sadari alasan atau penyebab emosi itu ‘ada’ pada awalnya.

Ini bukan berarti menyalahkan orang atau pihak lain di luar dirinya. Namun, lebih kepada sebab mengapa emosi itu muncul dan dirasakan olehnya.

4. Moving on

Energi yang berasal dari emosi apabila telah dirasakan dan dipahami seutuhnya, maka energi itu akan ‘kempes’.

Maka, selanjutnya yang dirasakan adalah ‘let go‘. Merelakan emosi dan energi yang menyertainya, sembari menerima diri seutuhnya.

Hasilnya tentu akan berbeda dari menyimpan dan menumpuk setiap emosi yang dirasakan, ataupun mencari pelarian atasnya.

Selain itu, Kartika juga menyarankan agar orang dapat ‘muncul’ dan menyampaikan emosi yang dirasakan kepada lingkungan kerjanya.

Dengan komunikasi yang baik, maka lingkungan kerja pun dapat berbenah dan menjadi tempat yang lebih nyaman untuk semuanya.

Semoga informasi dan kiat di atas dapat bermanfaat. (*)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *